gambarkan skema sensasi rasa pada lidah lengkap dengan keterangannya
Theslot is the area on the hockey rink that represents the highest probability of scoring a goal without deflection. A low slot allows players to shoot wrist shots with a clear v
Tag gambarkan filter bensin pada bahan bakar bensin lengkap dengan keterangannya. Posted in otomotif. Permasalahan Dan Solusi Filter Bensin Mobil Timor Dan Mobil Lainya. Author: karyono Published Date: Juli 20, 2020 Leave a Comment on Permasalahan Dan Solusi Filter Bensin Mobil Timor Dan Mobil Lainya.
Ilmudan Teknologi Sensasi Rasa di Lidah Kita . Beberapa orang merasakan garam lebih asin dibandingkan dengan orang lain. Edisi, 22 Juni 2010. Administrator. STATE COLLEGE
Tuliskanrumus gigi pada orang dewasa secara lengkap! 2. Tuliskan macam-macam enzim yang dihasilkan oleh ventriculus beserta fungsinya dalam tabel! Buatlah gambar organ ekskresi anatomi ren dan keterangannya ! 5. Sebutkan fungsi utama ren ! Saraf yang berfungsi untuk membawa impuls yang berkaitan dengan sensasi rasa, nyeri, raba, dan
BERITAPAGIMINGGU, 10 JANUARI 2016. YLKI: Penipuan Belanja 'Online' Meningkat. iPhone 6S Bakal Punya Warna Baru PENJUALAN iPhone terbaru yang dikabarkan menurun membuat Apple putar otak untuk
Singles Aus Brandenburg An Der Havel. Indonesains - Para ilmuwan dari Monell Center melaporkan bahwa reseptor penciuman fungsional, sensor yang mendeteksi bau di hidung, ternyata juga terdapat di dalam sel-sel perasa manusia yang ditemukan di lidah. Temuan itu mengungkapkan bahwa ada interaksi antara indera penciuman dan rasa. Komponen utama rasa makanan, ternyata berawal dari lidah dan bukan di otak, seperti yang diperkirakan sebelumnya. Mehmet Hakan Ozdener, MD, PhD, MPH, ahli biologi sel di Monell yang merupakan penulis utama penelitian tersebut mengatakan, temuan itu membantu menjelaskan bagaimana molekul bau memodulasi persepsi rasa. Temuan itu dapat mengarah pada pengembangan pengubah rasa berbasis bau yang dapat membantu memerangi kelebihan garam, gula, dan asupan lemak yang terkait dengan penyakit yang berhubungan dengan diet seperti obesitas dan diabetes. Sementara banyak orang menyamakan aroma dengan rasa, rasa khas dari sebagian besar makanan dan minuman lebih banyak berasal dari bau daripada rasa. Dari rasa yang mendeteksi molekul-molekul manis, asin, asam, pahit, dan umami gurih di lidah, Juga menjadi sumber penilaian mengukur toksisitas dari apa yang kita masukkan ke dalam mulut kita. Baca Juga Ferrofluid, Cairan Magnet Pemusnah Kanker di Masa Depan Bau memberikan informasi rinci tentang kualitas rasa makanan, misalnya, apakah itu pisang atau ceri. Otak menggabungkan input dari rasa, bau, dan indera lain untuk menciptakan sensasi rasa di mulut. Sampai sekarang, rasa dan bau dianggap sebagai sistem indera independen yang tidak berinteraksi sampai informasi masing-masing mencapai otak. Penelitian ini menantang kepercayaan itu, ketika putra Ozdener yang berusia 12 tahun bertanya kepadanya apakah ular menjulurkan lidah mereka agar mereka bisa mencium bau. Pada penelitian itu, Ozdener dan rekannya menggunakan metode yang dikembangkan di Monell untuk menjaga sel-sel selera manusia pada umumnya. Dan dengan menggunakan metode genetik dan biokimiawi untuk menyelidiki kultur sel rasa, para peneliti menemukan bahwa sel-sel rasa manusia mengandung banyak molekul kunci yang dikenal ada dalam reseptor penciuman. Mereka selanjutnya menggunakan metode yang dikenal sebagai pencitraan kalsium untuk menunjukkan bahwa sel-sel rasa yang dikultur merespons molekul bau dengan cara yang mirip dengan sel-sel reseptor penciuman.
Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat menikmati makanan dan minuman karena adanya indra pengecap ini. Indera pengecap tersebut terletak pada bagian permukaan atas terbagi menjadi beberapa daerah yang peka terhadap rasa yang berbeda-beda manis, pahit, asin dan masam. Permukaan lidah juga dapat merasakan panas, dingin, kasar, halus dan nyeri. Rongga mulut dianggap cermin kesehatan umum seseorang. Lidah merupakan salah satu organ di rongga mulut yang paling peka terhadap perubahan yang terjadi di dalam tubuh. Pada dasarnya, permukaan lidah adalah daerah yang paling banyak terpapar oleh iritasi dan keperluan dasar hidup sehari-hari seperti makan dan minum.. Lidah sebagai indera pengecap mempunyai beberapa fungsi yaitu membantu proses pengecapan dan perasa, mengatur letak makanan ketika dikunyah, membantu menelan, mendorong makanan ke dalam pharynx pada waktu menelan, pembersihan mulut, dan memainkan peranan yang penting sebagai alat bantu dalam berbicara. Lidah tersusun atas sekelompok otot yang bergabung. Adapun fungsi lidah yaitu untuk berbicara, mengecap dan menelan. Karena lidah kaya pembuluh darah dan air liur yang mengalir terus-menerus, maka kondisi lidah akan terus bersih dan potensi pertumbuhan bakteri berbahaya juga relatif kecil. Itu sebabnya, setiap perubahan warna, tekstur dan kelembaban lidah akan menentukan kondisi kesehatan. Baca Juga Papil Pengecap Lidah – Pengertian, Macam, Tunas, Penyakit, Warna, Kualitas, Cara kerja Anatomi Lidah Lidah terletak di dalam mulut. Lidah berwarna merah dan permukaannnya tidak rata. Lidah terdiri atas dua kelompok otot yaitu otot intrinsik dan otot ekstrinsik. Otot intrinsik berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah. Otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta membantu melakukan gerakan menekan makanan pada langit-langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring. Lidah merupakan organ muskular yang menonjol ke dalam kavum oris dari permukaan inferior. Otot-otot lidah merupakan otot bercorak seperti otot skelet, dan terdiri dari otot ekstrinsik mempunyai origo di luar lidah dan intrinsik mempunyai origo di dalam lidah. Otot bercorak lidah tersusun dalam berkas-berkas yang berjalan dalam tiga bidang; masing-masing bidang membentuk sudut tegak lurus satu dengan yang lain. Hal ini memungkinkan pergerakan lidah dengan fleksibilitas dan ketepatan tinggi, yang berperan baik dalam proses bicara maupun digesti system pencernaan dan menelan. Permukaan dorsal lidah terbagi atas 2/3 bagian anterior dan 1/3 bagian posterior oleh lekukan berbentuk huruf V, disebut sulkus terminalis. Apeks dari lekukan huruf V mengarah ke posterior dan merupakan lokasi foramen sekum. Pada bagian dorsal lidah terdapat beberapa jenis papila lidah yang berperan dalam fungsi mekanis mengatur makanan dalam kavum oris dan fungsi pengecapan organ indera. Lidah merupakan kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang ditutup oleh membran mukosa selaput lendir. Selaput lendir ini tampak kasar karena adanya tonjolan-tonjolan yang disebut papila yang merupakan akhiran-akhiran saraf pengecap dan terletak pada seluruh permukaan lidah. Saraf-saraf pengecap inilah yang dapat membedakan rasa makanan. Jumlah papila pada setiap orang belum tentu sama. Biasanya perempuan memiliki papila lebih banyak daripada laki-laki. Orang yang mempunyai banyak papila akan lebih peka terhadap rasa. Baca Juga Sistem Gerak Manusia Pengertian, Komponen, Dan Fungsinya Secara Lengkap Berikut adalah gambar dari lidah 1. Otot Internal Lidah 2. Otot Eksternal Lidah Taste Buds Organ pengecapan bagian perifer disebut taste buds caliculus gustatorious yang meliputi seluruh permukaan lidah yang mempunyai garis tengah sekitar 1/30 milimeter dan panjang sekitar 1/16 milimeter. Taste bud merupakan sel epitel yang telah dimodifikasi, beberapa diantaranya disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel reseptor. Sel-sel reseptor ini terus-menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel di sekitarnya dengan waktu paruh sekitar sepuluh hari. Kekhasan dari sel reseptor gustatori ini ditentukan oleh papila dimana taste buds berada bukan oleh nervus yang Taste bud memiliki beberapa tipe reseptor rasa yang memiliki silia. Setiap tipe ini akan mendeteksi satu jenis rasa dari 5 rasa dasar yaitu, asam, asin, manis, pahit dan umami. Seluruh rasa ini dapat dirasakan oleh seluruh permukaan lidah, tetapi satu jenis rasa akan lebih sensitif pada daerah tertentu. Ujung-ujung luar dari taste buds tersusun di sekitar taste pore yang sangat kecil. Dari ujung-ujung setiap sel, mikrovili menonjol ke luar menuju taste pore dan mengarah ke rongga mulut. Mikrovili ini dianggap memberikan permukaan reseptor untuk Beberapa dari serabut saraf pengecap yang dirangsang oleh sel-sel reseptor ini berinvaginasi menjadi lipatan membran sel pengecap yang juga dibentuk oleh banyak vesikel. Vesikel ini mengandung substansi neurotransmiter yang dilepaskan melalui membran sel untuk merangsang ujung-ujung serabut saraf dalam rensponnya terhadap rangsang pengecapan. Pembuluh Darah dan Saraf Lidah Arteri berasal dari arteri carotis externa. Arteri sublingualis berlanjut ke depan untuk mensuplai darah ke glandula sublingualis musculus Mylohyoid dan mukosa membran mulut menuju vena Jugularis interna. Di bawah lidah, mukosa membran ini membentuk frenulum lingualis untuk mengarahkan pergerakan lidah. Vena Lingualis merupakan vena commitantes mendampingi arteri Lingualis menuju vena Lingualis interna. Baca Juga Tulang Manusia Pengertian, jenis, Dan Struktur Beserta Fungsinya Secara Lengkap Ada vena Lingualis profundus, vena Lingualis dorsalis, dan vena commitantes yang berasal dari percabangan nervus hypoglossi. 14 Saraf-saraf yang berperan pada lidah adalah nervus facial VII, nervus glossopharyngeal IX, dan nervus vagus X. Jalur syaraf pengantar ke otak adalah dari nervus lingualis menuju chorda tympani VII dari 2/3 anterior lidah, melalui nervus X dari pharynx dan epiglottis atau melalui nervus IX dari 1/3 lidah posterior lidah. Jalan Kerja Impuls Pengecap dari Lidah ke Otak Tiga saraf cranial yang memainkan peranan dalam pengantaran impuls dari lidah ke otak, yaitu nervus facial VII pada bagian 2/3 anterior lidah, nervus glossopharyngeal IX pada bagian 1/3 posterior lidah, dan nervus vagus X pada pharynx dan epiglottis. Diawali dari taste buds pada lidah, impuls menyebar sepanjang nervus facial dan dari 1/3 posterior lidah melalui nervus glossopharyngeal. Impuls dari daerah lain selain lidah berjalan melalui nervus vagus. Impuls di ketiga saraf tersebut menyatu di medula oblongata untuk masuk ke nukleus traktus solitarius. Dari sana, axon berjalan membawa sinyal dan bertemu dengan leminiskus medialis kemudian akan disalurkan ke daerah insula. Impuls diproyeksikan ke daerah cortex serebrum di postcentral gyrus kemudian dihantar ke thalamus yang akan memberi persepsi pengecapan yang dirasa. Fisiologi Lidah Seluruh rasa dapat dirasakan oleh seluruh permukaan lidah, tetapi satu jenis rasa akan lebih sensitif pada daerah tertentu. Rasa manis lebih sensitif dirasakan pada daerah ujung depan lidah, rasa asin paling baik diapresiasi pada pinggir depan lidah, rasa asam paling baik diterima di sepanjang samping/tepi lidah dan sensasi pahit dapat dideteksi dengan sangat baik pada sepertiga belakang lidah. Keempat rasa ini dikenal dengan istilah sensasi rasa primer. Selain itu, ada rasa kelima yang telah teridentifikasi yakni umami yang dominan ditemukan pada L-glutamat. Keempat rasa tersebut sebagai berikut Rasa Manis Beberapa jenis zat kimia yang menyebabkan rasa ini meliputi gula, glikol, alkohol, aldehida, keton, amida, ester, asam amino, asam sulfonat, asam halogen, dan garam anorganik dari timah hitam dan berilium. Hampir semua zat yang menyebabkan rasa manis merupakan zat kimia organik; satu-satunya zat anorganik yang menimbulkan rasa manis merupakan garam-garam tertentu dari timah hitam dan berillium. Rasa Asam Rasa asam disebabkan oleh suatu golongan asam. Konsentrasi ion hidrogen maupun intensitas sensasi rasanya kira-kira sebanding dengan logaritma konsentrasi ion hidrogen. Oleh sebab itu, makin asam suatu makanan maka sensasi rasa asamnya semakin kuat. Rasa Asin Rasa asin ditimbulkan oleh garam terionisasi terutama konsentrasi ion sodium. Kualitas rasa asin sedikit berbeda dari satu garam dengan garam lainnya karena beberapa jenis garam juga mengeluarkan rasa lain di samping rasa asin. Rasa Pahit Rasa pahit seperti rasa manis, tidak disebabkan satu jenis agen kimia, tetapi zat-zat yang memberikan rasa pahit semata-mata hampir merupakan zat organik. Pembagian kelas zat yang sering menyebabkan rasa pahit adalah 1 Zat organik rantai panjang yang berisi nitrogen, dan 2 alkaloid. Alkaloid terdiri dari banyak obat yang digunakan dalam kedokteran seperti kuinin, kafein, striknin, dan nikotin. Proses Pengecapan Ujung saraf pengecap berada di taste buds pada seluruh permukaan lidah. Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam saliva akan mengadakan kontak dan merangsang ujung-ujung serabut saraf pengecap kemudian timbul impuls yang akan menjalar ke nervus facial VII dan nervus glossopharyngeal IX. Impuls dari daerah lain selain lidah berjalan melalui nervus vagus X. Impuls di ketiga saraf tersebut menyatu di medula oblongata untuk masuk ke nukleus traktus solitarius. Dari sana, axon berjalan membawa sinyal dan bertemu dengan leminiskus medialis kemudian akan disalurkan ke daerah insula. Impuls diproyeksikan ke daerah cortex serebrum di postcentral gyrus kemudian dihantar ke thalamus dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut kita. Tiap rasa utama tersebut tidak mutlak sebagai proses spesifik, artinya rasa oleh masing-masing ion atau molekul zat tersebut dapat bereaksi pada saat yang berlainan dengan setiap epitel neuron ujung serabut syaraf pengecapan. Jadi setiap taste buds dapat bereaksi untuk semua rasa walau dengan intensitas berbeda. Baca Juga Pengertian Sistem Endokrin Serta Fungsinya Bagian-Bagian Lidah Ada lebih dari tunas pengecap pada lidah manusia, sel-sel ini tumbuh seminggu setelah itu digantikan oleh sel-sel yang baru. Sel-sel reseptor tunas pengecap terdapat pada tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan lidah papila. Sel-sel inilah yang bisa membedakan rasa manis asam, pahit dan asin. Secara garis besar lidah dapat terbagi menjadi 2 bagian yaitu 2/3 depan yang disebut apeks dan 1/3 belakang yang disebut dorsum. Bagian depan lidah sangat fleksibel dan bekerja sama dengan gigi dalam pengucapan huruf-huruf. bagian tersebut juga membantu untuk menggerakkan makanan ke segala arah saat sedang mengunyah. Lidah juga mendorong makanan kembali ke permukaan kunyah gigi sehingga gigi dapat menggilasnya. Bagian belakang lidah juga penting untuk pengunyahan. Begitu makanan sudah halus dan tercampur dengan saliva air liur, atau pada saat meludah, otot-otot belakang lidah bekerja. Otot tersebut bersamasama air liur mengangkat dan mendorong makanan memasuki esofagus, yaitu “pipa” yang menghubungkan tenggorokan dengan perut. Meski dapat bergerak bebas, lidah terikat ke dasar mulut. Coba lihat ke cermin dan angkat lidah Anda, akan terlihat selapis tipis jaringan yang dalam bahasa kedokteran disebut frenulum yang menghubungkan lidah ke dasar mulut. Bila kita meliahat juga di cermin bahwa permukaan dari lidah kita tidak rata. Hal ini disebabkan karena permukaan lidah bagian depan tertutup oleh selapis tonjol-tonjol yang disebut papillae. Ada 4 jenis papillae, yaitu Papillae sirkumvalata, ada delapan hingga dua belas buah dari jenis ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Pappilae sirkumvalata adalah jenis pappilae yang terbesar dan masing masing di kelilingi semacam lekukan seperti parit . pappilae ini terdudun berjejer membentuk huruf V pada belakang lidah. Pappilae fungiformis, menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan berbentuk jamur. Pappilae filiform, adalah yang terbanyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah. Organ ujung untuk pengecapan adalah putting-putting pengecap yang sangat banyak terdapat dalam dinding pappilae sirkumvalata dan fungiforum. Pappilae filiform lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. Selaput lendir langit-langit dan farinx juga bermuatan putting-putting pengecap. Pappilae Vallatae, sebagai pembantu memegang makanan saat terjadi proses pengunyahan. Papillae terbesar, ada di cekungan berbentuk V di 1/3 lidah bagian belakang. Semua papilla tersebut memiliki kuncup pengecap, kecuali papilla vallatae yang hanya berfungsi untuk membantu “memegang” makanan. Selain berfungsi sebagai kuncup pengecap, Manusia terlahir dengan kurang lebih kuncup pengecap. Namun seiring dengan bertambahnya usia, sebagian kuncup pengecapnya mengalami atrofi /mati. Kuncup pengecap dapat membuat kita dapat menentukan apakah suatu makanan berasa manis, asam, pahit atau asin. Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel penunjang, pada sel pengecap terdapat silia rambut gustatori yang memanjang ke lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai kuncup pengecap Melalui lubang-lubang pengecap taste pores. Kuncup-kuncup pengecap dapat merespon empat rasa dasar, yaitu manis, masam, asin dan pahit. Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu Rasa Asin = Lidah Bagian Depan Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi Rasa Asam / Asem = Lidah Bagian Samping Rasa Pahit / Pait = Lidah Bagian Belakang Fungsi Lidah Berikut ini adalah fungsi dari lidah, sebagai berikut Menunjukkan kondisi tubuh Selaput lidah manusia dapat digunakan sebagai indikator metabolism tubuh, terutama kesehatan tubuh manusia. Warna Lidah Kuning menandakan adanya infeksi bakteri, jika warna kuning menuju kehijauan adanya infeksi bakteri akut. Merah menandakan aktivitas panas tubuh, jika hanya terdapat pada ujung lidah berarti adanya panas pd jantung, jika terdapat pada sisi kanan kiri menandakan adanya ganguan ginjal dan kandung empedu. Ungu berarti adanya aktivitas statis darah, darah tidak lancar dan ada gangguan. Biru menandakan adanya aktivitas dingin yang menyebabkan statis darah. Baca Juga Saraf Sensorik – Pengertian, Letak, Jenis, Jaras, Fungsi Bentuk Lidah Tipis ,jika bentuk lidah tipis dan berwarna pucat menandakan defisiensi kekurangan darah yang berhubungan dengan hati semakin pucat semakin parah gangguan hati tebal ,sirkulasi darah tidak normal menandakan gangguan ginjal dan limpa kaku ,menandakan masuk angin panjang,adanya akivitas panas pada jantung Retak,adanya ganguan pada lambung limpa dan jantung. Membasahi makanan di dalam mulut Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah Mengecap atau merasakan makanan Membolak-balik makanan Menelan makanan Mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata Faktor yang Mempengaruhi Sensitivitas Indera Pengecap Faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas indera pengecap diantaranya Usia Usia mempengaruhi sensitivitas reseptor perasa. Penurunan sensitivitas indera pengecap merupakan masalah fisiologis yang terjadi pada manula. Hal ini disebabkan karena terjadinya kemunduran dalam hal fisik maupun biologis dimana pada proses menua terjadi penurunan jumlah papila sirkumvalata seiring bertambahnya usia dan penurunan fungsi transmisi pada taste buds. Suhu Makanan Suhu makanan yang kurang dari 20o C maupun yang lebih dari 30oC dapat mempengaruhi sensitivitas taste buds pada indera pengecap. Suhu yang terlalu panas akan merusak sel-sel pada taste buds, namun keadaan ini akan cenderung berlangsung cepat karena sel yang rusak akan segera diperbaiki. Suhu yang terlalu dingin juga dapat membius lidah sehingga sensitivitas lidah akan berkurang. Penyakit Berbagai jenis penyakit, terutama penyakit kronis memerlukan perawatan dan terapi yang terkadang memakan waktu lama. Efek samping obat tersebut dapat mempengaruhi penurunan sensitivitas indera pengecap, seperti amphetamin dapat menurunkan sensitivitas terhadap rasa manis, anestesia seperti lidocaine dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas rasa asin dan manis, begitu juga penggunaan insulin untuk penderita diabetes yang berkepanjangan. Gangguan Penyakit pada Lidah Berikut ini adalah gangguan penyakit pada lidah, sebagai berikut Sariawan Sariawan atau canker sores atau ulkus aftosa merupakan gejala erosi pada kulit mulut, yakni di bagian dinding dalam pipi atau lidah. Penyebab dari sariawan ini adalah diantaranya kekurangan vitamin C, alergi, mengkonsumsi makanan / minuman yang terlalu panas, kekurangan asupan zat besi, atau bisa juga disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh. Pada dasarnya sariawan merupakan luka terbuka yang bisa menimbulkan rasa nyeri. Dalam ukuran kecil dengan diameter kurang dari 1 cm, sariawan bisa muncul dalam satu kelompok yang terdiri dari 2 – 3 luka yang biasanya akan sembuh dalam waktu kurleb 10 hari tanpa meninggalkan bekas. Meskipun tergolong penyakit lidah yang sederhana, sariawan ini akan cukup menggangu aktivitas yang akan dijalankan oleh lidah anda. Kanker Lidah Kanker lidah merupakan suatu pertumbuhan jaringan yang tidak normal neoplasma yang mucul dari jaringan epitel mukosa lidah. Keganasan kanker lidah terjadi paling sering pada bagian tengah lateral lidah dan seringkali asimtomatik. Penyebaran kanker ini bisa meluas melalui submukosa ke basal lidah dan menyerang garis tengah atau ke lateral menuju dasar mulut. Tembakau dan alkohol merupakan dua hal yang disinyalir sebagai pemicu semakin cepatnya pertumbuhan sel kanker lidah. Namun ada juga hal lain yang dapat memicunya seperti jarang merawat kebersihan gigi, pemakaian gigi palsu yang tidak sesuai. Geographic Tounge Geographic tounge merupakan peradangan pada lidah yang biasanya bersifat kronis dan terjadi jika ada gangguang pada saluran pencernaan. Penyakit pada lidah dinamakan GEOGRAPHIC TOUNGE karena bercak pada lidah seperti pulau pulau. Bagian Pulau itu berwarna merah dan lebih licin. Pada kondisi yang lebih parah, daerah berbentuk pulau akan dikelilingi lapisan tebal berwarna putih. Penyakit pada lidah ini bisa terjadi akibat alergi. Peradangan pada Lidah ATROPHIC GLOSSITIS Atrophic Glosstis adalah suatu penyakit pada lidah yang ditandai dengan kondisi lidah yang kehilangan rasa karena degenerasi ujung papil bagian menonjol pada selaput yang berlendir di bagian atas lidah. Penderita yang mengalami penyakit pada lidah ini . lidahnya akan tampak licin dan mengkilat, baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian. Penyakit ini sering kali timbul akibat kekurangan zat besi. Oleh karena itu penyakit pada lidah ini banyak ditemukan pada penderita anemia. Fissured Tounge Fissured tounge atau lidah retak retak merupakan penyakit pada lidah yang membuat lidah yang membuat lidah tampak seperti terbelah atau retak retak. Garis retakan yang muncul jumlahnya kadang hanya satu dan berada di tengah lidah. Namun bisa juga bercabang cabang kondisi ini tidak terlalu membahayakan, tapi sewaktu waktu dapat menimbukan perih dan nyeri di lidah. Lidah Berselaput coated tounge Penyakit pada lidah ini merupakan kondisi klinis pada dorsum lidah tampak tertutup oleh suatu lapisan yang umumnya berwarna putih atau mengikuti warna dari jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi. Selaput lidah ini bisa terjadi pad orang yang mengalami penyakit kronis dan sistemik, dehidrasi dan penyakit infeksi. Glossopyrosi Jika seseorang menderita penyakit pada lidah yang satu ini, lidah mereka akan terasa perih dan terbakar, namun tidak ditemukan gejala apa pun dalam pemeriksaan. Penggunaan obat kumur dalam jangka waktu panjang yang sering, ditambah jika cairan obat kumur tersebut mesih sangat pekat, bisa menimbulkan GLOSSOPYROSIS pada lidah. Glosoptosis Glosoptosis merupakan penyakit pada lidah yang berupa lidah yang tertarik ke belakang. Pada bayi baru lahir atau pada anak-anak kondisi glosoptosis sangan berbahaya karena bisa saja sewaktu-waktu lidahnya menutup saluran nafas yang bila tidak segera ditangani dengan benar bisa menyebabkan kematian. Penyakit pada lidah iti tidak akan terjadi jika kebersihan daerah mulut terjaga. Menjaga kebersihan mulut yang paling sederhana adalah dengan cara sebagai berikut Menggosok gigi minimal dua kali sehari Membersihkan lidah dengan alat tertentu Hindari menggunakan obat kumur secara berlebihan Menghindari makanan dan minuman dengan suhu ekstrem, Mengontrolkan kesehatan gigi anda setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi. Bila ketika merasakan hal yang ganjil pada lidah, ada baiknya jika periksakan kesehatan lidah anda. Daftar Pustaka Ethel,Slonane. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta EGC Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi. Jakarta EGC Ganong, 1983, Fisiologi Kedokteran, Jakarta CV. EGC. Guyton, A. C., 1983, Fisiologi Kedokteran 2, Jakarta CV. EGC. Radiopoetro, R., 1986, Psikologi Faal 1, Yogyakarta Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari
PROSES SENSASI SAMPAI PERSEPSI PADA MANUSIA 1. Penjelasan proses sensasi persepsi pada manusia – Stimulus stimulus adalah objek seperti cahaya, suara, sentuhan. – Ambang batas kemampuan untuk ditangkap, tergantung dari objeknya apakah termasuk dari stimulus kuat atau stimulus lemah. – Panca indera terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap, dan yang terakhir extrasensories sixcence – Sensasi sensasi adalah proses yang belum dimaknai – Proses yang mempengaruhi presepsi sesuatu yang kita alami, terdiri dari persepsi visual, dan persepsi individu. *dari sensasi ke proses yang mempengaruhi persepsi merupakan proses pengiriman ke otak* 2. Faktor yang mempengaruhi persepsi, terdiri dari a. Faktor internal – PANCA INDERA 1. Indera Pengelihatan – Mata terdiri dari Otot Mata. Bola Mata. Saraf Mata. – Alat tambahan mata yaitu o Alis Mata berfungsi untuk melindungi mata dari keringat. o Kelopak Mata melindungi mata dari benturan. o Bulu Mata melindungi mata dari cahaya yang kuat, debu dan kotoran. – Fungsi bagian – bagian indra penglihatan adalah sebagai berikut o Kornea selaput tanduk berfungsi untuk menerima rangsang cahaya dan meneruskannya ke bagian mata yang lebih dalam. o Iris selaput pelangi berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke mata. o Pupil anak mata berfungsi sebagai jalan pengatur keluar masuknya cahaya ke dalam mata. o Lensa mata berfungsi untuk menerima rangsang cahaya dan meneruskannya ke bagian mata yang lebih dalam. o Retina selaput jala berfungsi untuk membentuk bayangan benda yang kemudian dikirim oleh oleh saraf mata ke otak. o Urat saraf mata berfungsi meneruskan rangsang cahaya dari retina ke otak. o Otot mata berfungsi mengatur gerakan bola mata. o Kunjongtiva berfungsi sebagai membran pelindung pada mata. o Skrela berfungsimelindungi bola mata. o Koroid berfungsi memberi/mensuplai makanan pada mata. 2. Indera Pendengaran dan Kesimbangan -Indera pendengar adalah telinga yang terdiri dari o Telinga bagian luar yaitu daun telinga, lubang telinga dan liang pendengaran o Telinga bagian tengah terdiri dari gendang telinga, 3 tulang pendengar martil, landasan dan sanggurdi dan saluran eustachius. o Telinga bagian dalam terdiri dari alat keseimbangan tubuh, tiga saluran setengah lingkaran, tingkap jorong, tingkap bundar dan rumah siput koklea – Fungsi bagian-bagian indra pendengar o Daun telinga, lubang telinga dan liang pendengaran berfungsi menangkap dan mengumpulkan gelombang bunyi. o Gendang telinga berfungsi menerima rangsang bunyi dan meneruskannya ke bagian yang lebih dalam. o Tiga tulang pendengaran tulang martil, landasan dan sanggurdi berfungsi memperkuat getaran dan meneruskannya ke koklea atau rumah siput. o Tingkap jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran dan koklea rumah isput berfungsi mengubah impuls dan diteruskan ke otak. Tga saluran setengah lingkaran juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh. o Saluran eustus menghubachiungkan rongga mulut dengan telinga bagian luar. 3. Indera Peraba – Bagian indra peraba yang paling peka o Ujung Jari o Telapak Tangan o Telapak Kaki o Bibir o Alat Kemaluan. – Fungsi bagian-bagian kulit o Kulit ari berfungsi mencegah masuknya bibit penyakit dan mencegah penguapan air dari dalam tubuh. o Kelenjar keringat berfungsi menghasilkan keringat o Lapisan lemak berfungsi menghangatkan tubuh o Otot penggerah rambut berfungsi mengatur gerakan rambut o Pembuluh darah berfungsi mengalirkan darah keseluruh tubuh. 4. Indera Pembau – Fungsi bagian-bagian indra pembau o Lubang hidung berfungsi untuk keluar masuknya udara o Rambut hidung berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ketika bernapas o Selaput lendir berfungsi tempat menempelnya kotoran dan sebagai indera pembau o Serabut saraf berfungsi mendeteksi zat kimia yang ada dalam udara pernapasan o Saraf pembau berfungsi mengirimkan bau-bauan yang ke otak 5. Indera Pengecap • Daerah-daerah peka pada lidah o Pangkal Lidah dapat mengecap rasa pahit o Tepi Lidah mengecap rasa asin dan rasa asam o Ujung Lidah dapat mengecap rasa manis. Sumber b. Faktor eksternal a. objek yang di persepsi adalah stimulus yang memicu atau merangsang alat indera atau reseptor, sebagian besar stimulus itu dating dari luar, ada juga stimulus yang dating dari dalam individu yang memersepsi b. nilai-nilai dan kebutuhan individu adalah suatu stimulus yang dibutuhkan untuk seseorang dalam bersosisalisasi kepasa oranglain. 2. SISTEM SYARAF Sel saraf atau neuron merupakan satuan kerja utama dari sistem saraf yang berfungsi menghantarkan impuls listrik yang terbentuk akibat adanya suatu stimulus rangsang. Jutaan sel saraf ini membentuk suatu sistem saraf. 3. PERHATIAN Perhatian Perhatian adalah keaktifan peningkatan kesadaran seluruh fungsi jiwa yang dikerahkan dalam pemusatannya kepada barang sesuatu, baik yang didalam maupun yang ada diluar Dakir, 1993 114 . Dengan kata lain, perhatian adalah pemprosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya. Groover menyebutkan bahwa faktor yang memengaruhi persepsi dan ingatan adalah perhatian. Perhatian merupakan aktivitas menjaga sesuatu tetap dalam pikiran yang membutuhkan kerja mental dan konsentrasi. Terdapat 5 jenis perhatian, yaitu a. Perhatian selektif Selective Attention; Perhatian selektif terdapat pada situasi dimana seseorang memantau beberapa sumber informasi sekaligus. Penerima informasi harus memilih salah satu sumber informasi yang paling penting dan mengabaikan yang lainnya. Faktor-faktor yang memengaruhi perhatian selektif adalah harapan, stimulus, dan nilai-nilai. Penerima informasi mengharapkan sebuah sumber tertentu menyediakan informasi dan memberikan perhatian lebih pada sumber tersebut, memilih stimulus yang paling memberikan efek atau terlihat dibanding yang lain, dan memilih sumber informasi yang paling penting. b. Perhatian terfokus Focused Attention; Perhatian terfokus mengacu pada situasi dimana seseorang diberikan beberapa input namun harus fokus pada satu input saja selama selang waktu tertentu. Penerima informasi berfokus pada satu sumber/input dan tidak terdistraksi oleh gangguan-gangguan lain. Faktor yang berpengaruh terhadap perhatian terfokus adalah jarak dan arah, serta gangguan dari lingkungan sekitar. Penerima informasi akan lebih mudah menerima informasi dari sumber yang berada langsung di depannya. c. Perhatian terbagi Divided Attention; Perhatian terbagi terjadi ketika penerima informasi diharuskan menerima informasi dari berbagai sumber dan melakukan beberapa jenis pekerjaan sekaligus. d. Perhatian yang terus menerus Sustained Attention; Perhatian terus menerus dilakukan penerima informasi yang harus melihat sinyal atau sumber pada jangka waktu tertentu yang cukup lama. Dalam situasi ini sangat penting bagi penerima informasi untuk mencegah kehilangan sinyal. e. Kurang perhatian Lack of Attention; Kurang perhatian merupakan situasi dimana penerima informasi tidak berkonsentrasi terhadap pekerjaannya. Situasi ini disebabkan oleh kebosanan/kejenuhan dan kelelahan. Ciri-ciri pekerjaan yang dapat menimbulkan situasi kurang perhatian adalah pekerjaan dengan siklus pendek, sedikit membutuhkan pergerakan tubuh, lingkungan yang hangat, kurangnya interaksi dengan pekerja lain, motivasi rendah, dan tempat kerja memiliki pencahayaan yang buruk. sumber 3. Proses Penambahan Sensasi – Persepsi • Stimulus, energy yang dihasilkan oleh respon pada organ pengindraan yang langsung berpengaruh pada kelakuannya. • Transductive, penalaran/pemikiran yang diamati secara acak dan tidak terfokus pada satu objek. • Brain primary area, daerah sensorik primer, area otak utama yang menerima informasi sensorik dari proyeksi saraf utama. • Brain association area, bagian dari otak yang terhubung ke fungsi bagian utama dari syaraf utama. Daerah ini bertanggung jawab untuk berpikir, memori, dan pembelajaran, dalam kombinasi dengan bagian-bagian utama. • Personalized perception, suatu stimulus yang keluar dengan sendirinya dari dalam diri sendiri secara ilmiah.
0% found this document useful 0 votes3 views22 pagesOriginal TitleLaprak faalCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes3 views22 pagesLaprak FaalOriginal TitleLaprak faalJump to Page You are on page 1of 22 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 11 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 15 to 20 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa a. Penyebaran reseptor rasa di berbagai daerah pada lidah menentukan tingkat kepekaan tiap daerahnya terhadap setiap rasa. b. Tingkat kepekaan ORT dan waktu adaptasi OFT seseorang terhadap rangsangan bau ditentukan beberapa factor salah satunya oleh jumlah reseptor olfaktori yang terdapat dalam indera penciumannya. c. Jumlah dan persebaran reseptor panas, dingin, dan sentuhan adalah berbeda pada setiap bagian tubuh manusia. d. Jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta mata kanan adalah relatif sama dengan mata kiri. e. Refleks dan diameter pupil seseorang dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan intensitas cahaya dan daya akomodasi matanya. Figures - uploaded by Ahmad ArsyadiAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Ahmad ArsyadiContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN SISTEM SENSORI Nama Ahmad Arsyadi NIM 12640024 Asisten Mbak Rahmiyati Kelompok 1 Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014 I. Tujuan Percobaan a. Pengecap 1. Menentukan daerah penyebaran reseptor rasa pada lidah. 2. Menentukan tingkat kepekaan berbagai daerah di lidah terhadap setiap rasa. b. Pembau 1. Mengetaui tingkat kepekaan seseorang terhadap rangsangan bau. 2. Mengetahui waktu adaptasi reseptor pada indera pembau. c. Reseptor Panas dan Dingin 1. Membandingkan jumlah reseptor panas badan Ruffini dan dingin badan Krause pada kulit. 2. Mengetahui persebaran reseptor sentuhan badan Meissner pada kulit. d. Bintik Buta Menentukan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta. e. Refleks Pupil 1. Mengetahui refleks pupil terhadap intensitas cahaya. 2. Mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata. II. Dasar Teori Perspesi yang ada di dunia yaitu tekstur, warna, suara, hangat, bau, dan rasa ditimbulkan oleh otak akibat adanya impuls elektrokimiawi pada sel saraf yang dihantarkan ke otak dari reseptor sensori. Reseptor ini mengubah mentransduksi berbagai energi yang ada di dunia nyata menjadi energi impuls untuk dihantarkan ke sistem saraf pusat oleh sel-sel saraf sensori Fox, 2008. Menurut Fox 2008, reseptor sensori dapat dibagi menjadi empat macam menurut tipe energi stimulus yang ditransduksinya. Pembagian ini meliputi 1. Kemoreseptor, merupakan reseptor stimulus berupa zat-zat kimia yang ada di lingkungan atau darah papil pengecap, epitel olfaktori, aorta, dan badan carotid. 2. Fotoreseptor, meliputi sel-sel kerucut dan sel-sel batang pada retina mata. 3. Termoreseptor, yang peka terhadap kondisi panas dan dingin badan Crausse dan badan Ruffini pada kulit. 4. Mekanoreseptor, yang distimulasi oleh adanya perubahan bentuk mekanik dari reseptor membran sel reseptor sentuhan dan tekanan pada kuli serta sel rambut pada bagian dalam telinga. Reseptor juga dapat dibagi menjadi dua macam menurut tipe informasi dalam sel saraf sensori yang dihantarkan ke otak. Proprioreceptor merupakan reseptor yang peka terhadap posisi badan dan pergerakann tulang gelendong otot, tendon, dan reseptor tulang sendi. Jenis kedua adalah Cutaneous receptor meliputi reseptor sentuhan dan tekanan, reseptor panas dan dingin, dan reseptor sakit Fox, 2008. 1. Kemoreseptor a. Lidah Lidah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan indera khususnya pengecap dan pembau. Lidah terletak pada dasar mulut, sementara pembuluh-pembuluh darah dan urat ssaraf masuk dan keluar pada akarnya. Ujung serta pinggiran lidah bersentuhan dengan gigi-gigi bawah. Pada bagian posteriornya terdapat struktur ligamen halus frenulum linguae yang mengkaitkan bagian tersebut pada dasar mulut Irianto, 2012. Bagian anterior lidah bebas tidak terkait. Saat dijulurkan, ujung lidah akan meruncing dan bila terletak tenang di dasar mulut, maka ujung lidah akan membulat. Selaput lendir lidah selalu lembab dan pada waktu sehat berwarna merah jambu Irianto, 2012. Sel reseptor pengecap pada mamalia adalah sel epitel termodifikasi yang terorganisasi menjadi kuncup pengecap taste bud yang tersebar di sejumlah area lidah dan lidah terasosiasi dengan penjuluran berbentuk puting yang disebut papila yang bertugas untuk untuk mengenali berbagai macam rasa Guyton, 2006. Menurut Irianto 2012, permukaan atas lidah ditutupi papilla-papila yang mempunyai kepekaaan sendiri-sendiri dan terdiri atas tiga bagian, yaitu a1. Papila sirkumvalata, ada delapan hingga dua belas dari jenis ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Papila ini adalah jenis papilla yang terbesar dan masing-masing dikelilingi semacam lekukan seperti parit. a2. Papila fungiformis, menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah serta berbentuk seperti jamur. a3. Papila filiformis adalah yang terbanyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah. Kebanyakan makanan memiliki ciri harum dan cita rasa, tetapi ciri-ciri itu merangsang ujung saraf pembau bukan ujung saraf pengecap. Supaya dapat dirasakan semua, makanan harus menjadi cair serta benar-benar bersentuhan dengan ujung saraf yang mampu menerima rangsangan yang berbeda-beda. Puting pengecap yang berbeda-beda menimbulkan kesan rasa yang berbeda-beda juga. Adaptasi dari rasa kecap mula-mula berlangsung cepat dalam 2-3 detik, kemudian adaptasi berjalan lambat Irianto, 2012. Acuan untuk pengajaran peta rasa pertama kali diungkapkan oleh Hanig untuk meraih gelar doctor dan dipublikasikan pada Philosophisce Studien tahun 1901 menyatakan bahwa peta rasa di lidah terdiri atas empat bagian, yaitu rasa manis, asin, asam, dan pahit Irianto, 2012. Gambar Umami Peta rasa ini dikatakan sudah kadaluarsa karena setelah dikaji dan diteliti selama 100 tahun, para ilmuan menemukan bahwa otak dapat menginterpretasikan rasa kelima yaitu umami enak,sedap,lezat melalui serangkaian reaksi kimia di dalam sel rasa taste cell yang terdapat pada kuncup rasa taste bud di lidah. Kuncup ini berbentuk menyerupai bawang, terdiri atas 50-100 sel rasa yang masing-masing mempunyai mikrovili dan pori rasa taste pore Irianto, 2012. Menurut Ganong 1998, reseptor rasa asam kecut dirangsang oleh ion H+, bukan anion yang terkait. Untuk setiap bahan asam, rasa asam biasanya setara dengan konsentrasi H+, tetapi asam-asam organic sering lebih asam daripada asam mineral dengan konsentrasi H+ yang sama. Hal ini menurutnya disebabkan karena asam organik lebih cepat menembus sel daripada asam mineral. Rasa asin dihasilkan oleh Na+. Beberapa senyawa organik juga terasa asin, misalnya dipeptida lisiltaurin dan orniltaurin terasa asin, dan berdasarkan beratnya, lisiltaurin lebih kuat daripada NaCl. Sebagian besar rasa bahan yang terasa manis adalah bahan organik seperti sukrosa, maltosa, laktosa, glukosa, serta bahan lain seperti polisakarida, gliserol, kloroform, dsb. Bahan yang sering digunakan untuk menguji rasa pahit adalah kina sulfat yang disebabkan oleh adanya kation. Adapun rasa umami ditimbulkam oleh glutamat, asam amino yang banyak terdapat pada protein daging, ikan, dan legum Ganong, 1998. Menurut Irianto 2012, kerjasama antara indera pengecap dan pembau dapat mempengaruhi nafsu makan seseorang. Di samping itu juga mempengaruhi produksi kelenjar air liur. Bila aroma makanan itu sedap dan rasanya lezat, maka nafsu makan seseorang akan meningkat, dan produksi air liur juga akan meningkat untuk ditelan. Sebaliknya jika suatu zat berbau busuk, maka nafsu atau selera makan akan turun, tetapi produksi air liur akan meningkat untuk ditelan. Banyak serangga memiliki indera rasa yang berkembang sangat baik. Kupu-kupu admiral merah dapat merasakan larutan sukrosa sebanyak 0,000078 molar yang terlau uncer untuk kita rasakan. Reseptor rasa kupu-kupu tersebut terletak di kaki-kakinya. Insekta lain memiliki reseptor rasa pada antena dan bagian-bagian mulutnya Kimball, 1983. b. Hidung Penciuman Hidung dan pengecap Lidah secara umum diklasifikasikan sebagai indera visceral karena kaitannya yang erat dengan fungsi saluran cerna. Secara fisiologis keduanya berkaitan satu sama lain sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, kedua indera ini secara anatomis agak berbeda. Reseptor penciuman merupakan reseptor jarak jauh telesepator, jalur penciumannya tidak memiliki penyambung di thalamus, dan tidak terdapat daerah proyeksi neokorteks untuk penciuman. Sedangkan pada lidah, jalur pengecapannya berjalan melewati batang otak ke thalamus dan berproyeksi ke girus postsentralis bersama dengan jalur untuk sensibilitas sentuh dan tekan dari mulut Ganong, 1998. Menurut Fox 2008, reseptor yang bertanggung jawab terhadap olfaksi atau sensasi bau terletak pada epitel olfaktori. Apparatus olfaktori terdiri atas sel-sel reseptor sel saraf bipolar, sel-sel tiang, dan sel-sel batang. Sel-sel batang akan berdegenerasi untuk membentuk sel-sel reseptor baru setiap satu atau dua bulan untuk menggantikan sel saraf yang rusak akibat terbukanya dan bersentuhan dengan udara dingin dari lingkungan. Sel-sel tiang merupakan sel epitel yang kaya akan enzim untuk terjadinya oksidasi hidropobik. Setiap sel saraf bipolar memiliki satu dendrit yang menembus masuk ke rongga hidung dan terdapat knob yang bersilia di ujungnya. Dendrit pada sel saraf sensori ini memiliki protein reseptor olfaktori pada silianya yang berfungsi untuk mengikat dan menangkap molekul bau yang berupa uap Fox, 2008. Fungsi hidung adalah untuk menerima rangsangan bau-bauan yang dirangsang oleh gas yang terhirup. Rasa pembauan ini sangat peka dan kepekaannya mudah hilang bila dihadapkan pada suatu bau yang sama dalam waktu yang cukup lama. Rasa pembauan ini juga dapat diperlemah bila selaput lendir sangat kering, sangat basah dan membengkak pilek atau flu. Bau-bauan dilukiskan sebagai bau harum dan bau busuk Irianto, 2012. Menurut Irianto 2012, adaptasi terhadap bau-bauan mula-mula berjalan cepat dalam 2-3 detik kemudian adaptasi berjalan lambat. Suatu hal yang istimewa dalam pembauan manusia adalah bahwa kita dapat membaui sesuatu walau kadar zat tersebut dalam udara sangat sedikit. Beberapa hewan memiliki indera pembauan yang sangat hebat karena terdapat banyak sekali reseptor pembau yang sensitif pada hidungnya Irianto, 2012. Ngengat ulat sutra jantan dapat mencium feromon yang dikeluarkan ngengat betina yang jauhnya dua sampai tiga mil. Reseptor baunya, sebagaimana kebanyakan insekta, terdapat pada antena. Ular dan kadal mempunyai organ reseptor bau yang amat baik, yaitu organ Jacobson yang terletak di langit-langit mulut. Secara bergantian mereka mengeluarkan lidahnya ke udara dan kemudian ke dalam organ Jacobson sehingga mereka merasakan udara dan mendeteksi adanya bau Kimball, 1983. c. Kulit Kulit atau kutis merupakan salah satu organ yang paling luas permukaannya dan sangat penting bagi tubuh, yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga memiliki banyak fungsi yaitu sebagai alat pengeluaran, pelindung tubuh terhadap air, cuaca dan keadaan lingkungan lain, sebagai pengatur panas, sebagai alat pertahanan tubuh, sebagai alat indera untuk perasa dan peraba Irianto, 2012. Menurut Irianto 2012, di dalam kulit terdapat sejumlah reseptor untuk berbagai jenis rangsangan, dan paling sedikit terdiri atas lima jenis penginderaan, yaitu rabaan sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan sakit nyeri. Reseptor-reseptor tersebut tidak secara merata tersebar di kulit tubuh, demikian pula perbandingan jumlah untuk masing-masing reseptor tidak sama. Jumlah reseptor untuk rasa sakit hampir 27 kali lebih banyak daripada reseptor untuk dingin, sedang reseptor dingin berjumlah 10 kali lebih banyak daripada reseptor untuk panas. Sensasi pada kulit seperti yang telah disebutkan di atas ditangkap oleh dendrit yang terdapat di ujung berbagai sel saraf sensori yang berbeda pula. Reseptor rasa panas, dingin, dan sakit merupakan ujung dari sel saraf sensori yang naked telanjang. Sensasi rasa sentuh difasilitasi oleh adanya dendrit yang mengelilingi folikel rambut dan diperluas oleh ujung dendrite yang disebut badan Ruffini dan piringan Merkels. Sensasi rasa sentuh dan tekanan juga difasilitasi oleh dendrit yang dibungkus dalam struktur yang bervariasi seperti badan Meissner dan badan Pacini Fox, 2008. Menurut Irianto 2012, untuk rangsangan mekanik diperlukan beberapa reseptor khusus, ujung cabang-cabang halus serabut saraf yang berada di antara sel-sel epidermis dan berfungsi untuk rangsangan berbentuk sentuhan halus, sedang untuk rabaan yang agak kasar diperlukan reseptor yang berada di antara epidermis dan dermis. Untuk rabaan yang lebih kasar berupa tekanan pada kulit diperlukan reseptor khusus yang berbentuk seperti bawang yang terletak dalam dermis lebih dalam. Pada kulit telapak tangan, khususnya di ujung-ujung jari banyak ditemukan reseptor untuk sentuhan dan rabaan. Reseptor untuk rangsangan sakit nyeri dijumpai pada ujung-ujung percabangan serabut saraf yang menyebar pada dermis kulit secara meluas. Walaupun suhu merupakan rangsangan dalam satu kelompok, namun untuk merasakan perbedaan suhu, kulit dilengkapi dengan reseptor khusus yang berbeda strukturnya antara reseptor untuk suhu dingin dan suhu panas Irianto, 2012. Menurut Irianto 2012, indera yang disebutkan di atas tidak terbatas pada kulit saja, melainkan juga ditemukan pada selaput lendir mulut dan lidah. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa lidah kita dapat merasakan sakit, dingin, panas, dan dapat merasakan kasar halusnya permukaan makanan dalam mulut. Impuls saraf yang terbentuk oleh rangsangan pada setiap reseptor alat indera tersebut akan dijalarkan melalui serabut saraf menuju ke medulla spinalis untuk refleks dan ke korteks otak untuk penghayatan informasi yang diperoleh. d. Mata Mata adalah organ indera yang kompleks yang berevolusi dari bintik-bintik peka sinar yang primitif pada permukaan invertebrata. Di dalam wadahnya yang protektif, setiap mata memiliki sebuah lapisan reseptor-reseptor, sebuah lensa yang memfokuskan cahaya ke reseptor tersebut, dan sebuah sistem saraf yang menghantarkan impuls dari reseptor ke otak Ganong, 1998. Struktur bola mata terdiri atas sklera, yaitu lapisan paling luar dari mata yang keras dan terdiri dari jaringan konektif dan jika dilihat dari luar merupakan bagian yang berwarna putih. Jaringan sklera berhubungan dengan kornea yang masuk melewati kornea menuju ruang anterior mata. Kemudian cahaya melewati sebuah celah yaitu pupil yang dikelilingi oleh serabut otot berpigmen yang dikenal dengan iris. Setelah melewati pupil, cahaya masuk melalui lensa Fox, 2008. Mata berbentuk seperti bola, terletak di dalam rongga mata. Dinding rongga mata itu ialah tulang-tulang tengkorak yang sangat keras. Hal ini baik sekali untuk melindungi mata yang lunak. Bola mata memiliki garis tengah kira-kira 2,3 cm. Bagian depannya bening. Alat penerima rangsang cahaya yang akan dihayati oleh otak sebagai penglihatan ini terdapat di dalam bola mata berbentuk sebagai selaput jala atau retina. Bagian dari alat penglihatan beserta kelengkapannya ialah bola mata, otot-otot penggerak bola mata, kelopak mata, dan kelenjar air mata Irianto, 2012. Menurut Kimball 1983, mata manusia terdiri atas tiga lapisan, yaitu Lapisan luar atau lapisan sklera yang sangat kuat. Lapisan ini membentuk kornea yang bening yang menerima cahay masuk ke bagian dalam mata dan membelokkan berkas cahaya sedemikian rupa sehingga dapat difokuskan. Permukaan kornea tetap basah dan bebas debu karena sekresi dari kelenjar air mata. Lapisan tengah mata, yaitu lapisan koroid, amat berpigmen dengan melanin dan sangat banyak pembuluh darah. Lapisan ini sangat berfungsi untuk menghentikan refleksi berkas cahaya yang menyimpang di dalam mata. Di bagian depan mata, lapisan koroid membentuk iris. Iris juga dapat berpigmen dan bertanggung jawab terhadap warna mata. Suatu bukaan, yaitu pupil biji mata ada di tengah iris. Besarnya bukaan ini bermacam-macam dan dikendalikan secara otomatis Kimball, 1983. Menurut Kimball 1983, pada saat cahaya suram saat ada bahaya, pupil membesar agar cahaya yang masuk ke mata menjadi lebih banyak. Pada cahay terang, pupil mengecil. Hal ini tidak saja melindungi bagian dalam mata dari penerangan yang berlebihan, tetapi juga memperbaiki kemampuan pembentukan bayangan dari kedalaman medan. Lapisan dalam mata adalah retina. Retina terdiri atas reseptor cahaya yang sesungguhnya, yaitu sel batang dan sel kerucut yang tersusun rapat tepat di bawah permukaan retina. Sel batang, kira-kira ada 100 juta batang dalam setiap mata. Sel batang terutama dipakai untuk penglihatan dalam cahaya suram dan teramat peka terhadap cahaya. Akan tetapi, bayangan yang dibentuk batang-batang ini tidak tajam. Batang berfungsi dalam kelompok. Dengan kata lain, sejumlah batang berbagi satu rangkaian saraf ke otak. Satu batang dapat mengawali impuls dalam rangkaian tersebut tetapi otak tidak mungkin untuk menentukan batang mana dalam kumpulan itu yang terlibat. Agar cahaya dapat diserap, harus ada bahan penyerap cahaya, yaitu suatu pigmen pada batang yaitu rodopsin, suatu protein terkonjugasi Kimball, 1983. Sel kerucut, kira-kira sekitar pada setiap millimeter persegi di satu daerah retina, yaitu fovea, suatu daerah tepat di seberang lensa. Berbeda dari batang, kerucut hanya bekerja dalam cahaya terang yang membuat kita dapat melihat warna-warna. Setiap macam kerucut mengandung suatu pigmen yang paling baik menyerap salah satu di antara ketiga warna utama, merah, hijau, dan biru. Secara teori, otak dapat mencampurkan tiga sensasi warna utama untuk membentuk satu dari lebih berbagai corak warna yang dapat dibedakan oleh mata yang terlatih dengan baik Kimball, 1983. Lensa terdapat di belakang iris selaput pelangi berbentuk bulat dengan dua permukaan cembung kea rah depan dan belakang. Jadi, lensa mata merupakan lensa bikonveks. Lensa ini bersifat kenyal dan dilindungi oleh suatu bungkus lensa. Agar tidak berpindah tempat, maka pada bungkus lensa diperkuat dengan alat penggantung sebagai tali temali yang berpangkal di belakang iris. Pada pangkal tali temali tersebut terdapat otot pengatur kecembungan lensa. Untuk melihat dekat, lensa harus lebih cembung agar bayangan dapat jatuh pada selaput jala. Kecembungan lensa mata disebabkan kontraksinya otot-otot polos tadi. Proses mencembungnya lensa mata disebut amomodasi. Terlalu lama melihat dekat, misalnya membaca terus-menerus menyebabkan capai karena kontraksinya otot yang terus-menerus Irianto, 2012. Gangguan penglihatan dapat disebabkan karena kelainan lensa. Bila pada pandangan jauh, bayangan jatuh di muka retina menyebabkan kelianan yang dinamakan miopi. Keadaan ini harus dibetulkan dengan memakai kacamata yang lensanya cekung atau kacamata negatif, sebaliknya penglihatan pada pandangan dekat yang memberikan pandangan yang jatuh di belakang retina akan menyebabkan kelainan penglihatan yang disebut hipermetropi. Untuk membetulkan kelainan ini dipergunakan kacamata dengan lensa cembung atau kaca mata positif. Pada usia lanjut, kekenyalan lensa sudah berkurang, hingga akomodasi sudah berkurang kemampuannya. Orang tersebut membutuhkan kacamata dengan lensa cembung untuk membaca. Keadaan penglihatan tersebut dinamakan presbiopi. Penglihatan yang normal disebut emetropi Irianto, 2012. III. Bahan dan Metode Kerja a. Alat dan Bahan 1. Pengecap Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cotton bud, cawan petri, sapu tangan, gelas kimia, dan tissue atau kapas. Bahan yang dibutuhkan adalah larutan garam, larutan cuka, larutan gula, larutan kina, larutan MSG, dan air putih. 2. Pembau Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol flakon dan stopwatch. Bahan yang dibutuhkan adalah minyak angin dan parfum. 3. Reseptor Panas dan Dingin Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris, jarum pentul, jangka, gelas kimia, pulpen, dan sapu tangan. Bahan yang dibutuhkan adalah air panas dan air dingin. 4. Bintik Buta Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah uang logam 100 rupiah sebanyak 5 buah, kertas A4, dan penggaris. 5. Refleks Pupil Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris, senter, dan stopwatch. b. Metode Kerja 1. Pengecap Percobaan kali ini dilakukan dengan dibersihkannya gusi dan lidah terlebih dahulu berkumur kemudian dikeringkan dengan tissue atau kapas. Cawan petri yang sudah disiapkan sebelumnya dituangkan cairan lalu cotton bud direndam dalam setiap larutan. Setelah mata praktikan ditutup, cotton bud disentuhkan pada beberapa daerah lidahnya lalu ditanyakan rasa apa yang dirasakan. Bila jawaban praktikan sesuai dengan larutan yang dicobakan, diberikan tanda + pada gambar lidah dan bila tidak sesuai diberikan tanda -. Kemudian intensitas rasa pada setiap daerah lidah yang diuji ditentukan dengan tanda – tidak terasa, + kurang terasa, ++ terasa, dan +++ sangat terasa. Percobaan ini diulangi dengan cotton bud yang lain sesuai larutannya dan diujikan pada orang lain dan dibandingkan hasilnya. Berdasarkan hasil percobaan, dibuatkan peta penyebaran reseptor rasa pada lidah. 2. Pembau Percobaan kali ini dilakukan dengan dituangkannya bahan uji pada botol flakon secukupnya. Langkah selanjutnya adalah lubang hidung sebelah kiri praktikan ditutup dan bahan ditempatkan kurang-lebih 30 cm dari hidung praktikan. Kemudian tutup botol flakon dibuka dan dikibaskan dengan tangan. Saat membaui bahan uji, mulut praktikan harus dalam keadaan tertutup. Kemudian waktu sejak mulainya proses membaui hingga bau bahan tersebut tidak terasa lagi Olfactory Fatigue Times OFT dicatat dan botol flakon ditutup lalu diulangi untuk bahan lainnya segera setelah OFT untuk bahan pertama tercapai. Percobaan diulangi sebanyak tiga kali untuk dihitung nilai rata-rata OFTnya. Setelah OFT tercapai untuk semua bahan, praktikan diminta untuk membuka lubang hidungnya. Kemudian, secara berurutan dari bahan pertama hingga kedua, dikibaskan dan ditanyakan apakah praktikan kesulitan untuk mencium bau lalu dicatat hasil pengamatannya. 3. Reseptor Panas dan Dingin a. Reseptor panas dan dingin Percobaan kali ini dilakukan dengan dibuatkannya kotak berukuran 2,8 x 2,8 cm pada tangan bagian dorsal lalu dibagi menjadi 64 kotak. Langkah selanjutnya dilakukan dengan dimasukkannya jarum ke dalam gelas kimia yang berisi air panas dan jarum lain pada air dingin. Setelah lima menit, masing-masing jarum tersebut disentuhkan sebentar ke dalam kotak bujur sangkar pada praktikan secara berurutan lalu dicatat hasilnya dengan diberikan tanda + untuk kotak yang merasakan dan tanda – untuk kotak yang tidak merasakan. b. Reseptor Sentuhan Percobaan ini dilakukan dengan ditutupnya mata praktikan dengan salah satu lengannya diletakkan di atas meja dan diletakkannya kaki jangka pada jarak 3 cm lalu disentuhkan dengan tekanan ringan kedua kaki jangka secara bersama-sama pada bagian ventral lengan bawah praktikan. Jika praktikan merasakan dua titik, jarak antara kedua kaki jangka diperkecil, dan jika praktikan merasakan satu titik, jarak antara kedua kaki jangka diperbesar. Jarak antara kedua kaki jangka diperkecil sedikit demi sedikit hingga diperolah jarak terpendek yang masih dirasakan dua titik oleh praktikan kemudian dicatat hasilnya. Setelah dilakukan, semua langkah tersebut diulangi pada lengan bawah dorsal, telapak tangan ventral dan dorsal, ujung jari tangan kanan dan tangan kiri, dahi, pipi, tengkuk, serta bibir. 4. Bintik Buta Percobaan kali ini dilakukan dengan disusunnya lima buah mata uang logam lurus ke belakang dengan jarak masing-masing 8 mm dan ditandai lokasi uang logam pada kertas. Kemudian salah satu mata praktikan ditutup dengan karton tebal sedangkan mata yang satunya ditujukan pada bagian tengah dari uang logam yang terdepan. Setelah itu, praktikan ditanya tentang jumkah uang logam yang terlihat dan mana yang tidak. Kemudian jarak antar mata uang logam tersebut diubah diperbesar atau diperkecil lalu ditandai setiap posisi uang logam pada kertas dan dibandingkan hasilnya. Setelah semua langkah dilakukan, mata yang lain diujikan kembali sama dengan langkah-langkah di atas. 5. Refleks Pupil a. Refleks pupil terhadap intensitas cahaya Percobaan kali ini dilakukan dengan diletakkannya penggaris di bawah salah satu mata praktikan pada ruangan terang untuk diukur diameter pupilnya dan dicatat. Setelah itu, praktikan diminta untuk menutup matanya. Secara mendadak, praktikan diminta untuk membuka matanya kembali lalu diukur diameter pupilnya dan dicatat waktu yang diperlukan untuk terjadinya refleks pupil. Pada keadaan gelap, praktikan diminta untuk menutup kembali matanya dengan penggaris diposisikan dibawah salah satu matanya. Langkah selanjutnya dilakukan dengan diberikannya tanda kepada praktikan untuk membuka matanya lalu diterangi matanya dengan senter secara bersamaan dan diukur diameter pupilnya serta dicatat waktu yang diperlukan untuk refleks pupil kemudian dibandingkan dengan hasil percobaan sebelumnya. b. Refleks pupil terhadap akomodasi mata Percobaan ini dilakukan dengan diukurnya diameter pupil praktikan pada keadaan normal dengan diletakkannya penggaris di bawah salah satu matanya. Langkah berikutnya yaitu paraktikan diminta untuk melihat benda-benda yang jauh letaknya dan diukur diameter pupilnya. Setelah dilakukan, praktikan diminta kembali untuk melihat benda-benda yang dekat letaknya lalu diukur diameter pupilnya. Pada jarak yang sama, langkah percobaan di atas diulangi pada praktikan yang memiliki mata minus tanpa menggunakan kacamata dan dibandingkan hasilnya. IV. Hasil dan Pembahasan a. Pengecap Percobaan ini bertujuan untuk menentukan daerah penyebaran reseptor rasa pada lidah dan untuk menentukan tingkat kepekaan berbagai daerah di lidah terhadap setiap rasa. Adapun prinsip kerja percobaan ini adalah dengan menyentuhkan cotton bud yang telah direndam pada berbagai larutan ke setiap bagian lidah untuk berikutnya ditandai dan dijadikan data pengamatan. Setelah praktikan melakukan percobaan ini, didapatkan hasil sebagai berikut Gambar a. b. c. d. e. Ket a. Larutan gula b. Larutan garam c. Larutan cuka d. Larutan MSG e. Larutan kina Berdasarkan gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk puting pengecap untuk reseptor rasa manis banyak terdapat di bagian ujung lidah, reseptor rasa pahit banyak terdapat di bagian pangkal lidah, reseptor rasa umami banyak terdapat di bagian tengah lidah, reseptor rasa asin banyak terdapat dibagian tepi depan lidah, dan reseptor rasa asam banyak terdapat di bagian tepi belakang, sehingga dapat dikatakan sesuai dengan teori aslinya. Gambar a hingga e menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepekaan rasa antar larutan pada berbagai daerah di lidah. Menurut Irianto 2012, perbedaan yang mendasari kualitas rasa tersebut adalah terletak pada mekanisme jalur biokimia yang terjadi untuk setiap rasa. Senyawa kimia yang memberikan rasa asin, asam, dan gurih secara langsung akan bergerak melalui kanal ion, sedangkan pada rasa pahit dan manis perlu pengikatan senyawa kimia dengan permukaan reseptor rasa terlebih dahulu sehingga kualitas kepekaannya lebih rendah dibandingkan ketiga rasa lainnya. Adapun perbedaan tingkat kesukaan rasa tertentu didasarkan atas kebutuhan tubuh terhadap ion-ion dalam setiap rasa. Menurut Ganong 1998, tubuh lebih membutuhkan banyak ATP dalam memenuhi energinya sehingga manusia lebih cenderung menyukai rasa manis, suka rasa asin disebabkan tubuh membutuhkan ion Na+ dalam penyerapan glukosa, suka rasa umami disebabkan tubuh membutuhkan banyak asam amino dalam metabolisme selnya, dan tidak suka rasa asam serta pahit dikarenakan kedua rasa tersebut cenderung erat kaitannya dengan rasa basi dan racun. Perbedaan jenis kelamin tidak begitu dibahas dalam percobaan ini dikarenakan hanya menggunakan satu probandus, perempuan saja atau laki-laki saja. Namun, menurut Fox 2008, wanita memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan pria disebabkan oleh jumlah papilla pengecap serta reseptor rasa yang dimiliki terdapat lebih banyak pada lidah wanita. b. Pembau Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepekaan seseorang terhadap rangsangan bau dan untuk mengetahui waktu adaptasi reseptor pada indera pembau. Adapun prinsip kerja percobaan ini adalah dengan dikibaskannya botol flakon yang berisi bahan uji kea rah lubang hidung dengan perlakuan dibuka salah satu atau kedua lubang hidung probandus. Setelah praktikan melakukan percobaan ini, didapatkan hasil sebagai berikut x♀ parfum satu lubang 2,5 x♀ parfum dua lubang 3 x♀ minyak angin satu lubang 2,5 x♀ minyak angin dua lubang 2,5 x♂parfum satu lubang 5,5 x♂parfum dua lubang 3 x♂minyak angin satu lubang 4,5 x♂minyak angin dua lubang 2,5 ket x rata-rata Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa nilai OFT terbesar adalah dari probandus laki-laki. Namun, menurut Ganong 1998, OFT terbesar ORT terkecil adalah terletak pada wanita bukan laki-laki. Menurutnya, jumlah sel olfaktori reseptor penciuman pada wanita terdapat lebih banyak dibandingkan laki-laki sehingga menurunkan nilai ORT sebaliknya menaikkan nilai OFT wanita. ORT merupakan nilai yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk dapat membaui suatu zat peka, sedangkan OFT merupakan nilai yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan adaptasi atau densisitas seseorang hingga kehilangan bau zat tersebut. Hal inilah yang menyebabkan wanita pada umumnya memiliki tingkat kepekaan dan daya tahan pembau yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki Ganong, 1998. Perbedaan hasil yang diperoleh dengan teori aslinya ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelainan pembau yang mungkin dialami oleh probandus wanita seperti hiposmia berkurangnya kepekaan menghidung akibat sakit atau pilek, bagian rongga hidung yang mengandung reseptor penciuman kurang mengalami ventilasi, dsb. Berdasarkan data di atas juga dapat dilihat adanya perbedaan OFT antara perlakuan ditutupnya satu lubang hidung dengan yang terbuka semua. Menurut Irianto 2012, dalam keadaan satu lubang tertutup, sel-sel saraf penciuman tidak dapat berfungsi secara sempurna sehingga kepekaan terhadap rangsangan bau menjadi lebih rendah. Sedangkan pada keadaan terbuka dua-duanya, sel-sel saraf olfaktori dapat berfungsi secara sempurna sehingga tingkat kepekaan seseorang pun akan menjadi lebih tinggi. Namun, dalam percobaan ini, praktikan tidak menghitung ORT setiap probandus, sehingga perbedaaan tingkat kepekaan untuk tiap perlakuan pun belum dapat disimpulkan sesuai dengan teori yang ada atau tidak. c. Reseptor Panas dan Dingin Percobaan ini bertujuan untuk membandingkan jumlah reseptor panas badan Ruffini dan dingin badan Krause pada kulit dan untuk mengetahui persebaran reseptor sentuhan badan Meissner pada kulit. Adapun percobaan ini dibagi menjadi dua macam yaitu percobaan terhadap rasa panas dan dingin serta percobaan reseptor sentuhan. Prinsip kerja percobaan pertama yaitu dengan dibuatkannya kotak berukuran 2,8x2,8 cm dan dibagi menjadi 64 kotak pada tangan bagian dorsal lalu disentuhkan dengan jarum yang sudah dimasukkan ke dalam air panas atau dingin. Sedangkan pada percobaan kedua memiliki prinsip kerja dengan disentuhkannya kedua kaki jangka pada bagian-bagian tubuh tertentu dorsal dan ventral dengan perlakuan berupa pengaturan jarak antar kaki. Setelah praktikan melakukan kedua percobaan ini, didapatkan hasil sebagai berikut 1. Reseptor panas dan dingin xpanas + 43,8 xdingin + 40,43 xpanas - 20,14 xdingin - 23,57 2. Reseptor sentuhan Ket x rata-rata Berdasarkan kedua tabel di atas, untuk tabel pertama dapat dismpulkan bahwa tangan bagian dorsal memiliki reseptor panas dan juga reseptor dingin. Sedangkan pada tabel yang kedua, bagian tubuh yang memiliki sensivitas terkecil adalah telapak tangan dorsal dan yang memiliki sensivitas terbesar adalah ujung tangan kanan. Menurut Irianto 2012, penyebaran reseptor panas paling banyak terdapat pada tubuh bagian dorsal dan reseptor rasa dingin terletak pada tubuh bagian ventral. Hal ini disebabkan pada bagian dorsal terdapat lebih banyak badan Ruffini. Menurut Fox 2008, bagian tubuh yang paling sensitif terhadap sentuhan dari sepuluh bagian pada percobaan kedua di atas adalah ujung jari kanan sedangkan yang paling kurang peka adalah pada bagian dahi. Hal ini disebabkan pada ujung jari lebih banyak terdapat badan meissner dibandingkan bagian lainnya terlebih pada dahi. Berdasarkan tabel pengamatan pertama, praktikan mendapatkan data yang sesuai dengan teori namun ada penyimpangan terhadap rasa dingin. Seharusnya, reseptor rasa dingin + pada tangan dorsal harus lebih sedikit dibandingkan yang -. Begitu juga pada hasil pengamatan yang kedua. Praktikan menemukan penyimpangan bahwa telapak tangan dorsal memiliki sensivitas yang lebih kecil dibandingkan dahi. Namun, pada teori sebelumnya telah dijelaskan bahwa dahi memiliki reseptor sentuhan terkecil dibandingkan bagian lainnya. Perbedaan ini menurut Irianto 2012 dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti, probandus sedang mengalami gangguan psikis, adanya peubahan pada tekstur kulit akibat kosmetik ataupun obat oles, dan jumlah reseptor panas, dingin, serta sentuhan yang berbeda pula penyebarannya pada setiap orang. d. Bintik Buta Percobaan ini bertujuan untuk menentukan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta. Adapun prinsip kerja percobaan ini adalah dengan difokuskannya sebelah mata kanan kemudian kiri probandus ke bagian tengah uang logam pertama dari lima uang logam dengan perlakuan berupa pengaturan jarak antar uang logam tersebut. Setelah praktikan melakukan percobaan ini, didapatkan hasil sebagai berikut Jumlah koin yang terlihat Ket Jarak mata ke uang logam pertama 30 cm x rata-rata xjumlah koin yang terlihat oleh mata kanan 8 mm 4 xjumlah koin yang terlihat oleh mata kiri 8 mm 4 xjumlah koin yang terlihat oleh mata kanan 10 mm 4 xjumlah koin yang terlihat oleh mata kiri 10 mm 4 Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta probandus adalah 300 + 8x5 = 340 mm dari mata probandus. Menurut Irianto 2012, mata kanan dan kiri memiliki jarak titik buta yang tidak jauh berbeda, sehingga pada tabel di atas dapat dilihat kesamaan jumlah uang logam yang terlihat baik pada mata kiri dan kanan. Adapun perbedaan yang ditemukan pada kelompok empat dapat disebabkan oleh kemungkinan mata probandus yang mengalami miopi atau hipermetropi. Perubahan kecembungan lensa ini pun menyebabkan berubahnya lokasi bayangan yang jatuh ke retina. e. Refleks Pupil Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui refleks pupil terhadap intensitas cahaya dan untuk mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata. Adapun percobaan ini dibagi menjadi dua macam, yaitu refleks pupil terhadap intensitas cahaya dan refleks pupil terhadap akomodasi mata. Prinsip kerja percobaan pertama adalah dengan diukurnya diameter pupil probandus pada saat di ruang terang dan gelap dengan perlakuan berupa pemberian cahaya senter dan dicatatkan waktu refleks pupil yang terjadi. Sedangkan prinsip kerja percobaan kedua yaitu dengan diukurnya diameter pupil probandus dengan perlakuan berupa pengaturan jarak benda yang dilihat dekat dan jauh untuk mengatur daya akomodasi yang terjadi. Setelah praktikan melakukan kedua percobaan ini, didapatkan hasil sebagai berikut 1. Refleks pupil terhadap intensitas cahaya Diameter pupil cm / detik 2. Refleks pupil terhadap akomodasi mata xjarak dekat normal 0,43 xjarak jauh normal 0,56 xjarak dekat miopi 0,42 xjarak jauh miopi 0,52 ket x rata-rata Berdasarkan kedua tabel di atas dapat disimpulkan bahwa diameter pupil terkecil terjadi ketika probandus membuka mata dan disenter secara mendadak. Sedangkan diameter terbesar terjadi ketika probandus berada dalam ruang gelap. Selain itu, saat probandus melihat benda-benda yang dekat, maka diameter pupilnya akan mengecil dan akan membesar ketika melihat benda-benda yang jaraknya lebih jauh. Hasil pengamatan ini sesuai dengan teori yang sudah dijelaskan di bagian depan. Alasan pupil mengecil ketika melihat benda dekat ataupun berada dalam kondisi yang terang adalah karena adanya pengaruh refleks pupil dan daya akomodasi mata yan berfungsi untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk agar tidak terlalu banyak dan untuk mengatur kecembungan lensa mata saat melihat sumber cahaya benda yang dekat Kimball, 1983. Pada tabel pengamatan percobaan yang kedua, terdapat perbedaan antara diameter pupil probandus bermata normal dengan yang rabun jauh miopi. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa diameter pupil mata normal adalah lebih besar dibandingkan mata minus. Hal ini menurut Ganong 1998, dikarenakan mata seorang penderita miopi memiliki lensa yang terlalu mencembung sehingga cahaya yang diteruskan menjadi lebih banyak menyebabkan pupil lebih mengecil dari keadaan normalnya. V. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa a. Penyebaran reseptor rasa di berbagai daerah pada lidah menentukan tingkat kepekaan tiap daerahnya terhadap setiap rasa. b. Tingkat kepekaan ORT dan waktu adaptasi OFT seseorang terhadap rangsangan bau ditentukan beberapa factor salah satunya oleh jumlah reseptor olfaktori yang terdapat dalam indera penciumannya. c. Jumlah dan persebaran reseptor panas, dingin, dan sentuhan adalah berbeda pada setiap bagian tubuh manusia. d. Jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta mata kanan adalah relatif sama dengan mata kiri. e. Refleks dan diameter pupil seseorang dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan intensitas cahaya dan daya akomodasi matanya. VI. Daftar Pustaka Fox, 2008. Human Physiology Tenth Edition. New York McGraw-Hill. Ganong, 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta Buku Kedokteran UGC. Guyton, 2006. Text Book of Medical Physiology. Misisipi Department of Physiology and Biophysics University of Misisipi Medical. Irianto, K. 2012. Anatomi dan Fisiologi. Bandung Alfabeta. Kimball, 1983. Biologi Jilid 2. Jakarta Erlangga. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.
gambarkan skema sensasi rasa pada lidah lengkap dengan keterangannya