hadits tentang akhlak tercela

Dalamsebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari : 1871 [7/ 135] dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat 'Umar ibn al-Khathth ab secara tegas mengatakan tentang adanya bid'ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama'ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid'ah hasanah. Kaliini ákan dishare kumpulan hádits tentang akhlak Iengkap bahasa arab dán artinya. Islam mengajarkan sétiap pemeluknya untuk seIalu menjaga akhlak yáng baik dan meninggaIkan akhlak tercela. Perihal akhlak ménurut islam ini sudáh banyak sekali dijeIaskan di berbagai daIil baik ayat áyat Al-Quan máupun hadist Nabi Muhámmad SAW. AkhlakTercela (Al Akhlaaqul Madzmuumah) Adalah tindakan buruk terhadap Allah, setiap orang, dan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Contoh dari akhlak buruk diantaranya adalah sebagai berikut : Berdusta, Mengumpat, Mengadu domba, Iri hati/dengki dan; Angkuh; Hadis Tentang Menyepurnakan Akhlak. Terdapatbanyak hadis tentang keutamaan akhlak mulia, berikut ulasannya. Penjelasan ulama tentang akhlak mulia. Hadits tentang akhlak ke 9. Hadist tentang akhlak ke 8. Seluruh hadist di atas menunjukkan kemuliaan, keutamaan, manfaat bagi mereka yang berakhlak terpuji, juga menunjukkan kerugian bagi mereka yang memiliki sifat tercela. Caramenghindari akhlak tercela, antara lain dengan: Selalu mengingat Allah di mana saja berada; Rasulullah s.a.w. bersabda: Artinya : Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu 'Abdurrahman, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda : "Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa Singles Aus Brandenburg An Der Havel. Hadits Tentang Akhlak Dalam Islam, akhlak merupakan suatu sifat yang mulia yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Tapi pada kenyataannya akhlak kita tidak seperti yang di contohkan oleh panutan kita yaitu Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Padahal seperti yang disabdakan oleh Nabi kita yang mahfumnya “Aku di utus untuk menyempurnakan akhlak”. Mengapa hal ini terjadi?, dan bagaimana cara agar kita mempunyai akhlak yang mulia?, dalam artikel ini akan kami tuliskan hadist tentang akhlak, dan kami berusaha menuliskannya secara lengkap dan kami lengkapi pula dengan tulisan arab, latin dan artinya, juga penjelasan ulama tentang akhlak yang mulia. Daftar IsiDefinisi Akhlak10 Hadits Tentang Akhlak dan PenjelasannyaHadist ke 1Hadist ke 2Hadist ke 3Hadist ke 4Hadist ke 5Hadist ke 6Hadits Tentang Akhlak ke 7Hadist Tentang Akhlak ke 8Hadits Tentang Akhlak ke 9Hadits Tentang Akhlakul Karimah ke 10Hadits Tentang Akhlak TercelaAyat dan Hadits Tentang Akhlak RasulullahPenjelasan Ulama Tentang Akhlak MuliaDoa Agar di Berikan Akhlak Yang BaikKesimpulan Hadits Tentang Akhlak Definisi Akhlak Akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan, baik perbuatan itu baik ataupun buruk. Dan dalam menentukan baik buruknya akhlak seseorang adalah dengan tolok ukur Al Quran dan Hadits, karena seperti yang sudah kita ketahui, ajaran islam ini adalah ajaran yang lengkap yang mengatur segala lini kehidupan kita. Begitupun dengan akhlak, parameternya sudah jelas yaitu Al Quran dan Assunnah, simak di bawah ini ayat dan hadist-hadist yang berkenaan dengan akhlak. Simak di bawah ini hadist tentang keutamaan akhlakul karimah, kami pilihkan 10 hadist yang jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita maka kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak. Hadist ke 1 سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ » Artinya “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya juga tentang perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, beliau menjawab, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” [HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246]. Penjelasan Taqwa adalah meninggalkan semua yang di larang dan mengamalkan apapun yang di perintahkan sesuai dengan petunjuk dan cara yang di contohkan oleh Rasullulah sallallahu alaihi wassalam, dengan bekal taqwa maka akhlak yang baik akan mudah kita terapkan di keseharian kita. Ini menandakan tanpa taqwa maka akhlak yang baik saja tidak akan memasukan kita kedalam surga keduannya harus beriringan, ini berarti sebaik apapun akhlak seorang muslim, kalau dia tidak sholat atau tidak melaksanakan amalan wajib, maka akhlaknya tersebut tidak bisa memasukannya kedalam surga. Hadist ke 2 اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ Artinya “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153]. Penjelasan Sama seperti hadist pertama di atas, taqwa lebih penting dari akhlak dalam satu sisi. Lalu, jika kita melakukan suatu kesalahan atau dosa, maka jika kita mengikutinya dengan melakukan amalan baik maka kesalahan tersebut akan di hapuskan oleh ALLAH Azza wa jalla, tapi syaratnya bukan kesalahan atau dosa yang besar, karena kalau kita melakukan dosa besar harus dengan taubatan nashuha. Di bagian akhir hadist ini memerintahkan kita untuk bergaul dengan manusia dan memperlakukan orang lain dengan akhlak yang baik, di bawah akan kami tuliskan apa saja akhlak yang baikmenurut islam, Hadist ke 3 إِنَّ مِنْ أَحِبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا Artinya “Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat denganku yaitu orang yang paling baik akhlaknya.” [HR. Tirmidzi] Penjelasan Ini adalah salah satu fadhilah atau keutamaan jika kita memiliki akhlak yang baik, dan ini keuntungan sangat besar, bayangkan…,kita akan di cintai oleh manusia Agung ini dan kita pada hari kimat akan mendapatkan keutamaan lain yaitu dekat dengan Nabi. Dekat dengan nabi pada hari kiamat berarti kita akan di jauhkan dari Neraka dan akan mudah untuk memasuki surga, keutamaan apa lagi yang lebih besar dari ini?. Hadist ke 4 أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ Artinya “Aku adalah penjamin sebuah rumah di sekitar taman Surga bagi seseorang yang meniggalkan perdebatan walaupun ia benar, penjamin rumah ditengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun ia bercanda, juga menjadi penjamin sebuah rumah di Surga paling atas bagi orang yang memiliki akhlak yang baik.” [HR. Abu Dawud] Penjelasan Nyambung dengan hadits ke tiga diatas, bahwa Nabi akan menjamin kita untuk mendapatkan rumah di surga yang paling atas, artinya derajat kita di surga akan tinggi, syaratnya kita harus memiliki akhlak yang mulia, Hadist ke 5 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا Artinya “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” [HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162.] Penjelasan Iman dalam islam adalah suatu hal yang harus kita jaga dan kita pelihara di dalam hati agar selalu kuat dan yakin akan semua yang di turunkan dan di jelaskan, baik melalui Al Quran Maupun Assunnah, dan akhlak baik yang di miliki oleh seseorang merupakan salah satu tanda akan sempurna imannya. Hadist ke 6 إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ Artinya “Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya.” [HR. Muslim] Penjelasan Lembut merupakan akhlak yang mulia, entah itu lembut kepada manusia ataupun hewan, lembut disini berarti kita tidak kasar, entah itu dalam berucap maupun dalam bersikap. Hadits Tentang Akhlak ke 7 إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ Artinya “Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang baik.” [HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.] Penjelasan Alangkah baik dan bahagiannya seseorang yang di berikan taufiq dan hidayah oleh Allah Subhana hu wataala untuk melakukan amalan puasa sunnah dan sholat, tapi jangan khawatir, jika kita belum bisa melakukan amalan agama yang sunnah secara rutin, kita masih bisa menandingi derajat mereka. Yaitu dengan memiliki akhlak yang mulia, apalagi jika disamping kita rajin puasa dan rajin sholat, kita juga mempunyai akhlak yang mulia, maka itu adalah salah satu keutamaan besar yang di berikan Allah Azza wa jalla kepada kita. Hadist Tentang Akhlak ke 8 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ Artinya “Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari gangguan ucapan dan tangannya, dan orang yang hijrah termasuk kelompok muhajirin adalah yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah.” [HR. Bukhari] Penjelasan Seorang yang mempunyai akhlak mulia maka akan menjaga tangan dan lisannya dari menyakiti dan menganggu orang lain, maka jika kita masih sering menggibah, berkata bohong dan adu domba maka itu cerminan dari buruknya akhlak kita. Hadits Tentang Akhlak ke 9 قال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- “إِنَّ لِكُلِّ دِيْنِ خُلُقًا وَخُلُقُ الإسلامَ الْحَيَاءُ Artinya Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi was sallam, bersabda “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islami adalah rasa malu.” [HR. Ibnu Majah] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ مسلم Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda,“Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapakna Laa ilaha illallaah’, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan sebagian dari iman.” [HR. Muslim] Penjelasan Kedua hadist di atas menjelaskan tentang sifat malu yang di miliki oleh seorang muslim adalah salah satu akhlak islami, dan selain itu sifat malu juga bagian dari cabang iman. Pertanyaannya, malu seperti apa yang merupakan akhlak mulia?, malu disini adalah ketika kita malu kepada ALLAH jika kita kelakukan kemaksiatan, dan malu kepada manusia jika kita melakukan kemaksiatan dalam artian jika kita melakukan kemaksiatan maka kita akan menyimpannya sebagai rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain. Hadits Tentang Akhlakul Karimah ke 10 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا Artinya “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah ia yang memiliki akhlak terbaik. Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik akhlaknya kepada pasangannya.” [HR. At Tirmidzi] Penjelasan Sama seperti hadist diatas, kesempurnaan iman adalah dengan memiliki akhlak yang mulia, dan Nabi kita Sallallahu alaihi wassalam meberikan bocoran tentang orang yang terbaik akhlaknya adalah seseorang yang baik kepada istri atau suaminya. Seperti kita ketahui kita hidup dengan pasangan kita dalam jangka waktu lama, dan ini akan mengeluarkan sifat asli kita, berbeda jika kita berakhlak dengan teman atau kerabat kita, karena pertemuan kita dengan kerabat tersebut dalam jangka waktu yang tidak lama, maka kita bisa membaguskan akhlak kita. Berbeda kepada pasangan kita, yang kita lakukan adalah cerminan akhlak kita yang sebenarnya, jika kita berakhlak kepada pasangan kita maka memang itulah akhlak kita yang sesungguhnya, jika akhlak kita baik kepada pasangan kita maka kita termasuk orang yang mempunyai akhlak mulia. Hadits Tentang Akhlak Tercela إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا Artinya “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang tercela.” [HR. Bukhari, Muslim] عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ Artinya Dari Abu Darda’ radhiallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak ada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seseorang yang keji lagi jahat mempunyai akhlak tercela.” [HR. Tirmidzi] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ مسلم Artinya “Tidak akan masuk Surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” [HR. Muslim] عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ Artinya Dari Jabir radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda “Sesungguhnya diantara orang yang paling aku cintai dan tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari Kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya darilu pada hari Kiamat ialah orang yang paling banyak bicara berkata-kata yang tidak bermanfaat dan memeperolok manusia.” Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?’ Nabi menjawab, Yaitu orang-orang yang sombong akhlak tercela.” [HR. Tirmidzi] Ayat dan Hadits Tentang Akhlak Rasulullah Ayat Al Quran وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ Artinya“Dan sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas akhlak yang agung.” [QS. Al-Qalam Ayat 4] Hadits tentang menyempurnakan akhlak إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ Artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Ahmad, Bukhari] كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ Artinya “Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an.” [HR. Muslim] Penjelasan Ulama Tentang Akhlak Mulia Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy mengatakan وَإِنَّهُ فِي نَفْسِهِ عِبَادَةٌ عَظِيْمَةٌ تَتَنَاوَلُ مِنْ زَمَانِ الْعَبْدِ وَقْتًا طَوِيْلاً، وَهُوَ فِي رَاحَةٍ وَنَعِيْمٍ، مَعَ حُصُوْلِ الأَجْرِ الْعَظِيْمِ Artinya “Dan sesungguhnya akhlak mulia itu sendiri pada dasarnya merupakan ibadah yang agung yang mencakup waktu yang panjang dari seorang hamba, sementara sang hamba dalam ketenteraman dan kebahagian, disertai memperoleh pahala yang besar” [risalah “Husnul Khuluq”] Ini adalah perkataan yang benar adanya, jika kita sholat, puasa dan melakukan ibadah lainnya, kita sadar bahwa kita sedang melakukan amal ibadah, tapi tatkala kita bergaul dengan manusia dan berakhlak mulia kita tidak menyadarinya atau tidak menganggap sebagai ibadah, padahal ini adalah ibadah yang mulia yang akan mendatangkan banyak sekali keutamaan. Dan waktu yang kita pakai dalam pergaulan dengan manusia adalah waktu yang panjang, sehingga jika kita berusaha untuk berakhlak mulia selama dalam pergaulan tersebut, maka pahala besar menanti kita. Hasan Al Basri rahimahullah seorang Ulama tabi’in menjelaskan tentang akhlak mulia ini yaitu dengan menyebutkan 3 perkara. كف الأذى ؛ وبذل الندى ؛ وطلاقة الوجه Artinya Tidak menganggu, suka menolong dan berwajah ceria atau optimis Tidak menganggu Jika kita belum bisamembantu dan memberikan manfaat kepada orang, maka sebisa mungkin tidak mengganggu dan membuat orang lain tidak terbebani oleh kita. Suka menolong Menolong sesama baik dengan harta, tenaga maupun gagasan, dengan membantu orang lain secara tidak langsung sebenarnya sedang membantu kita juga, kenapa demikian, karena Allah Azza wajalla yang akan membalas kebaikan kita tersebut,baik di dunia maupun di akhirat. Berwajah ceria atau optimis Siapa yang tidak senang jika bertemu orang yang murah senyum, dan jika di mintakan pendapat selalu membuat kita optimis, begitulah orang dengan akhlak yang mulia, selalu membuat orang lain senang, dan inilah yang banyak orang salah dalam menilai, karena akhlak merupakan ibadah yang tidak di anggap ibadah. Doa Agar di Berikan Akhlak Yang Baik Ada seseorang yang sedari lahir sudah diberikan anugrah oleh Allah mempunyai akhlak yang mulia, dan sebagian lagi tidak, dan untuk mendapatkan hidayah dari ALLAH berupa akhlak yang terpuji, maka kita perlu meminta kepadaNya dengan berdoa, berikut bacaan doa meminta akhlak yang terpuji. Doa Meminta Akhlak Mulia ke 1 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ Bacaan Latin Allaahumma inni a’udzubika min munkaraatil akhlaaqu wal a’mali wal ahwaai’ Artinya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemunkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu”.’ [HR. At Tirmidzi] Doa Memohon Akhlak Mulia Ke 2 ,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ Bacaan Latin “Allaahumma ahdinii li-ahsanil a’maal, wa ahsanil akhlaaq, la yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wa qinii sayyi-il a’maal, wa sayyi-il akhlaaq, laa yaqii sayyi-ahaa illaa anta.” Artinya “Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau [HR Imam Nasa’i] Kesimpulan Hadits Tentang Akhlak Akhlak mulia mempunyai kedudukan tinggi dalam syariat agama islam, bahkan ini menjadi indikator bagi seseorang yang memiliki keimanan sempurna. Menerapkan akhlak mulia di dalam kehidupan kita adalah ibadah yang sangat agung, dan waktu ibadah ini akan sangat panjang, karena kita sebagai manusia yang merupakan mahluk sosial akan sering berinteraksi dengan manusia lainnya. Perlu untuk di tanamkan kedalam diri kita bahwa berakhlak mulia adalah ibadah, berusahalah untuk memperlakukan ini seperti ibadah lainnya. Ada sebagian orang yang sudah di berikan taufiq dan hidayah dengan akhlak yang mulia, tapi ada juga, bahkan kebanyakan tidak mendapatkan hidayah tersebut. yang belum mendapatkan taufiq akhlak mulia maka patut untuk berusaha dengan bersungguh-sungguh agar bisa berakhlak mulia dengan cara mencontoh bagaimana Nabi dan para Sahabatnya bersikap. Langkah selanjutnya untuk mendapatkan akhlak mulia adalah dengan berdoa kepada ALLAH Azza Wajalla. Dengan berakhlak mulia maka kita akan di senangi oleh manusia, Nabi Sallalahu Alaihi Wassalam dan juga ALLAH Subhana Hu wataala dan akan mendapatkan pahala yang besar juga jaminan rumah di dalam surga. Demikian beberapa penjelasan dan kutipan hadits tentang akhlak, Semoga kita di mudahkan oleh ALLAH Subhana Hu Wataala untuk senantiasa berakhlak mulia. Wallahu a’lam. Referensi Baca Juga Hadist tentang Ikhlas Hadist Tentang Menuntut Ilmu Hadist Tentang Sabar Hadist Tentang Kematian Akhlak tercela merupakan perbuatan yang tidak di ridhoi Allah swt. dikarenakan perbuatan ini adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah. Dalam al-Qur’an sangat jelas bahwa orang berperilaku tercela akan dilaknat oleh Allah swt. seperti halnya orang yang hanya menyuruh tanpa berbuat dalam hal agama. untuk lebih jelasnya langsung saja baca dibawah ini. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akhlak tercela merupakan perbuatan yang tidak di ridhoi Allah swt. dikarenakan perbuatan ini adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah. Dalam al-Qur’an sangat jelas bahwa orang berperilaku tercela akan dilaknat oleh Allah swt. seperti halnya orang yang hanya menyuruh tanpa berbuat dalam hal agama. Jadi orang yang hanya menyuruh tanpa melakukan apa yang ia katakan, maka Allah akan melaknatnya dan membenci orang tersebut. Untuk itu segeralah meminta ampun dan bertawakkallah kepada Allah swt. Rasulullah telah mencontohkan tentang bagaimana kita bersikap terlebih dahulu sebelum memerintah terhadap orang lain, seperti suksesnya beliau dalam memimpin dunia ini. B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi Akhlak Tercela ? 2. Ayat al-Qur’an dan Hadits yang berkenaan dengan Akhlak Tercela ? 3. Apa saja macam-macam Akhlak Tercela ? 4. Bagaimana upaya menghindari sifat tercela ? 5. Apa saja kerugian orang mempunyai Akhlak Tercela ? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui apa itu Akhlak Tercela 2. Ayat sifat tercela menurut al-Qur’an dan Hadits. 3. Untuk mengetahui macam-macam Akhlak Tercela 4. Upaya menghindari sifat tercela 5. Kerugian memiliki Akhlak Tercela BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Akhlak Tercela Yang dimaksud dengan akhlak tercela adalah sifat, perilaku dan perbuatan yang merugikan kepada diri sendiri dan orang lain. Dalam pandangan al-Ghazali, akhlak yang tercela disebut dengan al Mazdmumah, yaitu segala perilaku yang dicela oleh Allah dan makhluk. [1] Dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa manusia memiliki akhlak karena ia memiliki nafsu yang mengajaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Tercela” diartikan sesuatu yang tidak pantas. Jadi, jelas bahwa akhlak tercela adalah memang merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas bagi manusia dikarenakan pada hakikatnya manusia adalah suci. Allah swt. selalu memerintahkan kebaikan kepada hambanya, namun ada saja orang yang melalaikan perintah-Nya. Sesuai dengan firman-Nya أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤ Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaktian, sedang kamu melupakan diri kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab Taurat? Maka tidaklah kamu berpikir.[2] Sedangkan dalam ayat yang lain Allah berfirman يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَنْ تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣ 2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.[3] Penjelasan ayat Mereka yang tidak menyucikan Allah swt., menyimpang dari sistem yang berlaku dan menyendiri padahal semua menyucikan-Nya, sungguh sikap merekea itu harus diluruskan. Kaum beriman telah menyadari hal tersebut, bahkan ada yang telah menyatakan siapnya berjuang dalam rangka menyucikan Allah, tetapi ketika tiba saatnya, mereka mengingkari janji. Ayat di atas mengecam mereka dengan memanggil mereka dengan panggilan keimanan sambil menyindir bahwa dengan keimanan itu mestinya tidak berlaku demikian. Allah berfirman Hai orang-orang yang mengaku beriman, kenapa kamu mengatakan yakni berjanji akan berjihad atau mengapa kamu mengucapkan apa yang tidak kamu perbuat yakni tidak sesuai dengan kenyataan? Amat besar kemurkaan di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Setelah menyebut apa yang dibenci Allah, disebutnya apa yang disukai-Nya dengan mengatakan Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang dijalan-Nya yakni untuk menegakkan agama-Nya dalam bentuk satu barisan yang kokoh yang saling kait-berkait dan menyatu jiwanya lagi penuh disiplin seakan-akan mereka kukuh dan saling berkaitannya satu dengan yang lain bagaikan bangunan yang tersusun rapi. Dalam pengantar surat ini, penulis telah kemukakan riwayat at-Tirmidzi tentang turunnya surah ini. Dengan demikian surah di atas dapat dinilai sebagai kecaman yang ditujukan kepada mereka yang berjanji akan berjihad tetapi ternyata enggan melakukannya. Ibn Katsir dalam tafsirannya menuturkan bahwa mayoritas ulama menyatakan bahwa ayat ini turun ketika kaum muslimin mengaharapkan diwajibkannya jihad atas mereka, tetapi ketika Allah mewajibkannya mereka tidak melaksanakannya. Dengan demikian ayat ini serupa denga firman-Nya dalam QS. al-Baqarah 2 246 yang berbicara tentang orang-orang Yahudi yang satu ketika mengaharap diizinkan untuk berperang tetapi “Tatkala perang diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali sedikit diantara mereka.” Riwayat lain menyatakan bahwa ayat di atas turun sebagai kecaman terhadap mereka yang mengatakan “Kami telah membunuh musuh, menikam, memukul dan telah melakukan ini dan itu.”, padahal merek atidak melakukannya. Dengan demikian ayat di atas mengecam juga orang-orang munafik yang mengucapkan kalimat syahadat dan mengaku muslim tanpa melaksanakan secara baik dan benar tuntunan agama islam. Melihat lanjutan ayat yang berbicara tentang perjuangan/ peperangan, maka agaknya ayat di atas turun berkaitan dengan sikap sementara kaum muslimin yang enggan berjuang, padahal sebelumnya telah menyatakan keinginan melaksanakan apa yang disukai Allah swt. Kendati demikian, semua riwayat-riwayat itu dapat ditampung kandungan oleh ayat di atas, karena memang ulama menggunakan kata sabab nuzul bukan saja terhadap peristiwa yang terjadi menjelang turunnya ayat, tetapi juga peristiwa-peristiwa yang dapat dicakup oleh kandungan ayat, baik peristiwa itu terjadi sebelum maupun sesudah turunnya ayat itu , selama masih dalam masa turunnya al-Qur’an. Kata كبر kabura berarti besar tetapi yang dimaksud adalah amat keras, karena sesuatu yang besar terdiri dari banyak hal/komponen. Kata ini digunakan disini untuk melukiskan sesuatu yang sangat aneh, yakni mereka mengaku beriman, mereka sendiri yang meminta agar dijalankan tentang amalan yang paling disukai Allah untuk mereka kerjakan, lalu setelah dijelaskan oleh-Nya mereka mengingkari janji dan enggan melaksanakannya sungguh hal tersebut adalah suatu keanehan yang luar biasa besarnya. Kata مقتا maqtan adalah kebencian yang sangat keras, dari sini ayat di atas menggabungkan dua hal yang keduanya sangat besar, sehingga apa yang diuraikan disini sungguh sangat mengundang murka Allah. Ini ditambah lagi dengan kalimat عند الله inda Allah/disisi Allah yang menunjukkan bahwa kemurkaan itu jatuh langsung dari Allah swt. Karena itu menurut al-Qur’an – sabagaimana dikutip oleh al-Biqa’i – “Tidak ada ancaman menghadap satu dosa sepert ancaman yang ditemukan ayat ini.” Thabathaba’i menggarisbawahi perbedaan antara mengatakan sesuatu apa yang tidak dia kerjakan, dengan tidak mengerjakan apa yang dikatakan. Yang pertama adalah kemunafikan, sedang yang kedua adalah kelemahan tekad. Yang kedua inipun merupakan keburukan. Allah menjadikan kebahagiaan manusia melalui amal kebajikan yang dipilihnya sendiri, sedang kunci pelaksanaannya adalah kehendak dan tekad, yang keduanya tidak akan memberikan dampak positif kecuali jika ia mantap dan kuat. Nah, tidak adanya realisasi perbuatan setelah ucapan, merupakan pertanda kelemahan tekad dan ini tidak akan menghasilkan kebajikan bagi yang bersangkutan. Demikian lebih kurang Thabathaba’i. Kata صفّا shaffan/barisan adalah sekelompok dari sekian banyak anggotanya yang sejenis dan kompak serta berada dalam satu wadah yang kukuh lagi teratur. Kata مرصوص marsush berarti berdempet dan tersusun dengan rapi. Yang dimaksud oleh ayat di atas adalah kekompakan anggota barisan, kedisiplinan mereka yang tinggi, serta kekuatan mental mereka menghadapi ancaman dan tantangan. Maka ini demikian, karena dalam pertempuranpun – apalagi dewasa ini – pasukan tidak harus menyerang atau bertahan dalam bentuk barisan. Ayat-ayat di atas merupakan kecaman. Sementara ulama memahaminya sebagai kecaman kepada orang-orang munafik, bukan orang-orang mukmin, karena sifat orang-orang mukmin sedemikian tinggi sehingga mereka tidak perlu dikecam. Pendapat ini hemat penulis benar, tetapi kita juga tidak dapat mengatakan bahwa yang dikecam itu bukan hanya orang-orang munafik, karena itu ayat di atas menggunakan kata alladzina amanu bukan al-mu’minun.[4] Sedangkan dalam hadits, ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang akhlak tercela, diantaranya 213. وَعَنْ مُعَذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَنِي رَسُوْلُ اللهِ  فَقَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّااللهَ, وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ, فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذَلِكَ, فَأَعْلِمُهُمْ أَنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ, فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمُهُمْ أَنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ, فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ, وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. 213. Dari Mu'az katanya "Saya diutus oleh Rasulullah saw. lalu beliau saw. bersabda "Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari ahlul kitab - Yahudi dan Nasrani, maka ajaklah mereka itu kepada menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya saya adalah pesuruh Allah. Jikalau mereka telah mentaati untuk melakukan itu, maka beritahukanlah bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka akan lima kali sembahyang dalam setiap sehari semalam. Jikalau mereka telah mentaati yang sedemikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah - zakat - yang diambil dari kalangan mereka yang kaya-kaya, kemudian dikembalikan - diberikan - kepada golongan mereka yang fakir-miskin. Jikalau mereka mentaati yang sedemikian itu, maka jagalah harta-harta mereka yang dimuliakan – yakni yang menjadi milik peribadi mereka. Takutlah akan permohonan - doa - orang yang dianiaya - baik ia muslim atau kafir, karena sesungguhnya saja tidak ada tabir yang menutupi antara permohonannya itu dengan Allah - yakni doanya pasti terkabul." Muttafaq 'alaih. Penjelasan Hadits Wasiat Rasulullah saw. yang agung ini disampaikan kepada Mua’adz bin Jabal sesaat sebelum dia bertolak ke Yaman dalam jabatannya sebagai amir disana. Dalam wasiatnya itu pertama-tama Mua’adz diperingatkan bahwa dia akan berada diperkampungan ahli kitab pemeluk suatu agama yang sekaligus bertugas untuk menyampaikan ajaran Islam itu kepada mereka. Untuk itu diperlukan keterangan yang jujur dan jelas. Pertama-tama adalah ajakan untuk beriman kepada Allah dengan benar dan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. jangan keburu pindah kepersoalan lain, sebelum yang satu ini benar-benar diyakini. Kalau sudah, barulah berpindah kesoal lain, yaitu soal sholat dan kemudian zakat yang haarus dipilihkan dari harta yang baik, demi memperhatikan hak fakir miskin, sedang bagi petugas dilarang keras berbuar zhalim, misalnya dengan memungut zakat itu berlebihan, sehingga merugikan pihak yang dipungut, sebab orang yang diperlakukan dengan zhalim itu akan mendoakan yang tidak baik, sedang doanya akan selalu diperhatikan oleh Allah, kendati yang bersangkutan itu banyak berbuat durhaka kepada Allah dan tidak memenuhi persayaratan doa sebagaimana layaknya.[5] 598. وَعَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ  دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ حَدِيْثُ حَسَنٌ صَحِيْحٌ. وَمَعْنَاهُ اتْرُكُ مَا تَشُكُّ فِيْهِ، وَخُذْ مَا لَا تَشُكُّ فِيْهِ. 598. Dari al-Hasan bin Ali radhiallahu 'anhuma, katanya "Saya hafal sesuatu sabda dari Rasulullah saw. "Tinggalkanlah apa-apa yang meragu-ragukan padamu untuk beralih kepada apa-apa yang tidak meragu-ragukan padamu." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Artinya ialah Tinggalkanlah apa-apa yang engkau merasa bimbang untuk dilaksanakan dan ambil sajalah apa-apa yang engkau tidak merasa bimbang samasekali dalam melaksanakannya. Penjelasan Hadits Diantara perkara yang meragukan, yaitu perkara yang belum jelas halal-haramnya serta tidak ada dalil nash yang menerangkan halal-haramnya terhadap perkara yang kedudukannya seperti ini sesuai petunjuk Nabi saw. dalam hadits beliau tersebut seharusnya dijauhi/ditinggalkan karena jalan itulah yang lebih selamat.[6] 629. وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ  عَنِ البِرُّ وَالْإِثْمُ، فَقَالَ البِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَاحَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتُ أَنْ يَطَّلِعُ عَلَيْهِ النَّاسُ. رواه مسلم. 629. Dari an-Nawwas bin Sam'an katanya "Saya bertanya kepada Rasulullah saw. perihal kebajikan dan dosa. Beliau saw. lalu bersabda "Kebajikan itu ialah baiknya budipekerti dan dosa itu ialah apa-apa yang engkau rasakan bimbang dalam dada – yakni hati - dan engkau tidak suka kalau hal itu diketahui oleh orang banyak." Riwayat Muslim. Penjelasan Hadits Budi pekerti yang baik adalah merupakan sendi ketaatan karena orang yang perangainya baik akan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat. Karena itu ketika Nabi saw. ditanya tentang kebaikan, jawab beliau pendek “Kebaikan ialah perangai yang bagus inilah akan memancar segala kebaikan dan ketaatan seorang mukmin terhadapa Tuhannya maupun terhadap sesama manusia. Setiap perbuatan yang dilarang oleh Allah, atau hal-hal yang belum diketahui kedudukan hukumnya menurut syariat-Nya, tentu jiwa seorang mukmin akan ragu dan bimbang mengerjakannya dan kalau perbuatan itu sudah jelas terlarang sedang ia tahu akan pasti seorang mukmin tidak suka perbuatannya itu diketahui orang lain. Lantaran itulah ketika Rasulullah saw. ditanya tentang “Keburukan” maksiat maka jawab beliau pendek “Keburukan yaitu apa yang meragukanmu dan kamu tidak suka perbuatanmu itu diketahui orang lain”.[7] B. Macam-Macam Akhlak Tercela 1. Syirik Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia syirik adalah penyekutuan Allah dengan yang lain, misalnya, pengabdian selain kepada Allah Taala dengan menyembah patung, tempat keramat, dan kuburan, dan kepercayaan terhadap keampuhan peninggalan nenek moyang yang diyakini akan menentukan dan mempengaruhi jalan kehidupan; Menurut Imam an-Nawawi syirik adalah menyandarkan perbuatan yang hanya Dzat Yang Maha Esa semata berhak melakukannya kepada makhluk yang bukan haknya melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dalam al-Qur’an وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ ­­لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣ 13. Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar"[8] 2. Kufur Kufur atau kafir adalah keadaan tidak beriman kepada Allah swt. maka orang yang kufur atau kafir adalah orang yang percaya atau tidak beriman kepada Allah baik orang tersebut bertuhan selain Allah maupun tidak bertuhan, seperti paham komunis atheis.[9] Imam an-Nawawi mengatakan “Sesungguhnya orang yang mengingkari sesuatu yang diketahui secara pasti dalam agama Islam, maka dihukumi murtad dan kafir, kecuali jika dia baru saja masuk Islam atau dia hidup di tempat yang jauh dari dakwah Islam dan semisalnya dari orang yang samar atasnya lalu mengetahuinya, jika terus seperti itu, maka dihukumi kafir”. Artinya seseorang dihukumi kafir jika mengingkari perkara syari’at yang sudah pasti diketahui bagi setiap orang dharurah yakni diketahui baik orang khusus alim ataupun orang awam semisal sholat farduh dan meminum khomer, bukan perkara yang samar yakni perkara yang diketahui oleh orang khusus saja semisal pembagian hak waris seperenam untuk cucu perempuan. Allah berfirman dalam al-Qur’an وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۗ قُلۡ تَمَتَّعُواْ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ ٣٠ 30. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Katakanlah "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka"[10] 3. Nifak Nifak adalah suatu perbuatan yang lahir dan batinnya tidak sama. Secara lahiriyah beragama Islam, namun jiwanya atau batinnya tidak beriman. Munafiq adalah orang yang melakukan perbuatan nifak, yaitu orang yang secara lahiriyah mengaku beriman kepada Allah, mengaku beragama Islam, bahkan dalam beberapa hal kelihatan seperti perbuatan dan bertindak untuk kepentingan Islam, tetapi sebenarnya hatinya mempunyai maksud lain tidak didasari iman kepada Allah.[11] Dalam hal ini Allah berfirman dalam al-Qur’an وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَقَد دَّخَلُواْ بِٱلۡكُفۡرِ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ٦١ 61. Dan apabila orang-orang Yahudi atau munafik datang kepadamu, mereka mengatakan "Kami telah beriman", padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi daripada kamu dengan kekafirannya pula; dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.[12] 4. Takabur Imam al-Ghazali mendefinisikan takabur ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi orang yang bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah, alias kecantikannya.[13] Allah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ٢٣ 23. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.[14] 5. Dengki Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dengki adalah menaruh perasaan marah benci, tidak suka karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Jadi jelaslah bahwa orang yang memiliki sifat dengki akan cenderung membenci sesorang disertai dengan tindakan. Rasulullah saw. bersabda حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنِي قَيْسٌ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Qais dari Ibnu Mas'ud radliallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda "Tidak boleh iri dengki kecuali kepada dua hal. Yaitu kepada seorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu dia menguasainya dan membelanjakannya di jalan yang haq benar dan seorang yang Allah berikan hikmah ilmu lalu dia melaksanakannya dan mengajarkannya kepada orang lain ".[15] 6. Iri Iri berbeda dengan dengki. Perbedaannya hanya saja iri yaitu merasa kurang senang terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada orang lain tanpa melakukan tindakan, atau mencemburui sesuatu yang dilihatnya. 7. Riya Riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya. Allah berfirman dalam al-Qur’an إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢ 142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya dengan shalat di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.[16] C. Upaya Menghindari Sifat Tercela 1. Mengekang atau mengendalikan hawa naafsu diri sendiri Hawa nafsu selalu mengajak kejahatan dan kemaksiatan. Al Nafs al Ammarah. Nafsu jenis ini disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 ”Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”[17] 2. Waspada dan berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Syetan adalah makhluk Allah yang berusaha agar segenap anak cucu Adam berada dalam kesesatan dan durhaka kepada Allah. Untuk itu, kita dianjurkan untuk berlindung kepada Allah untuk terhindar dari bujuk rayu syetan sehingga kita menang dengan rayuan syetan tersebut. 3. Beritiqamah dalam taat kepada Allah, melalui serangkaian ibadah dan memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Dengan membiasakan diri mengingat Allah dan Rasulullah, maka lambat laun iman kita akan semakin kokoh, sehingga nafsu akan terkendali.[18] D. Kerugian Memiliki Akhlak Tercela 1. Dimurkai dan dibenci Allah SWT. Seseorang yang memiliki akhlak yang tercela akan terbiasa dengan segala bentuk kedurhakaan dan kemaksiatan terhadap Allah. Seorang yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka Allah akan membencinya dan akan memberi balasan dengan azab yang pedih. azab Allah dapat diturunkan di dunia dengan berbagai macam bencana, malapetaka yang disebabkan oleh kemaksiatan kemungkaran yang dilakukan oleh manusia. 2. Dibenci dan dijauhi oleh manusia Seseorang yang terbiasa dengan hal yang buruk akan terbiasa berbuat kedzaliman, aniaya dan merugikan orang lain. Perbuatannya selalu merugikan dan mendatangkan bahaya bagi orang lain. 3. Mendapatkan penderitaan dan kehinaan dunia akhirat Seorang yang memiliki akhlak tercela akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya, karena sekecil apapun dosa yang diperbuatnya akan mengurangi amal kebaikan yang diperbuatnya.[19] BAB III PENUTUP A. Kesimpulan akhlak tercela adalah sifat, perilaku dan perbuatan yang merugikan kepada diri sendiri dan orang lain. Dalam pandangan al-Ghazali, akhlak yang tercela disebut dengan al Mazdmumah, yaitu segala perilaku yang dicela oleh Allah dan makhluk. Sedangkan macam-macamnya adalah syirik, kufur, nifak, takabur, dengki, iri, riya. B. Saran Sesuai dengan perintah Allah dalam dalam al-Qur’an QS. as-Saff ayat 2-3 bahwa kita harus melakukan terlebih dahulu sebelum kita menyuruh kepada orang lain dalam hal agama sehingga Allah tidak menurunkan murka-Nya kepada kita semua. DAFTAR PUSTAKA Hasyim, Husaini A. Madjid. Syarah Riyadhus Shalihin 1. Surabaya Bina Ilmu, 2003. Sholichin, Muchlis. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf. Pamekasan STAIN Pamekasan Press, 2009. Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta Lentera Hati, 2002. Software Kitab Shahih Bukhari Tauhid Ilmu Kalam. [1] Muchlis Sholichin. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf Pamekasan STAIN Pamekasan Press, 2009, hlm. 89 [2] QS. al-Baqarah 2 44. [3] QS. as-Saff 61 2-3 [4] M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Jakarta Lentera Hati, 2002, hlm. 189-191. [5] Husaini A. Madjid Hasyim. Syarah Riyadhus Shalihin 1 Surabaya Bina Ilmu, 2003, hlm. - [6] Husaini A. Madjid Hasyim. Syarah Riyadhus Shalihin 1. hlm. 406. [7] Husaini A. Madjid Hasyim. Syarah Riyadhus Shalihin 1. hlm. 432-433. [8] QS. al-Luqman 31 13 [9] Tauhid Ilmu Kalam. hlm. 21. [10] QS. Ibrahim 14 30 [11] Tauhid Ilmu Kalam. hlm. 22. [12] QS. al-Maidah 5 61. [13] [14] QS. an-Nahl 16 23. [15] Software Kitab Shahih Bukhari [16] QS. an-Nisaa’ 4 142. [18] Muchlis Sholichin. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf. hlm. 103 [19] Muchlis Sholichin. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf. hlm. 89. Kumpulan hadits tentang akhlak - Sebagai seorang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, tentu kita harus selalu menjaga sikap, etika dan akhlak kita kepada siapapun dan dimanapun agar setiap gerak-gerik kita selalu diridhoi oleh Allah SWT. Wajib bagi seorang muslim untuk berakhlak yang baik dalam sepanjang hidupnya, karena selain diwajibkan untuk taat dan beribadah menyembah kepada Allah SWT, kita juga wajib berbuat terpuji kepada sesama manusia dengan menyempurnakan akhlak terbaik dalam masalah akhlak yang bisa dijadikan teladan tentu saja adalah Nabi Muhammad SAW. Beliaulah makhluk dengan akhlak terbaik yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dalil-dalil yang menjelaskan akan ketinggian dan kesempurnaan ahklak Nabi Muhammad SAW, baik ayat-ayat Al Quran maupun dalam hadist. Dengan begitu kita sebagai umatnya haruslah mengikuti beliau karena pahala dan balasan yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang orang yang berakhlakul karimah sangatlah besar. Maka dari itu haruslah kita pelajari hadist hadits tentang akhlak untuk selanjutnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar akhlak kita menjadi baik dan mulia terutama di mata Allah SWT. Hadits Tentang Akhlak إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. HR. Ahmadقال رسولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- "إِنَّ لِكُلِّ دِيْنِ خُلُقًا وَخُلُقُ الإسلامَ الْحَيَاءُ Dari Anas -semoga Allah meridhoinya- dia berkata Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda "Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islami adalah rasa malu." HR. Ibnu Majahإِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah/hina. HR. Bukhori, HR Muslimإنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya. HR. Ahmadعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا الترمذى “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah ia yang memiliki akhlak terbaik. Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya kepada pasangannya.” HR. Tirmidziعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ مسند أحمد Aisyah RA berkata, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, sungguh orang-orang yang beriman dengan akhlak baik mereka bisa mencapai menyamai derajat mereka yang menghabiskan seluruh malamnya dalam sholat dan seluruh siangnya dengan berpuasa” [Musnad Imam Ahmad]عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ الترمذي Abu Darda’ meriwayatkan Aku mendengar Nabi Muhammad saw berkata, “Tak ada yang lebih berat pada timbangan Mizan, di hari Pembalasan dari pada akhlak yang baik. Sungguh, orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan sholat.” Hadits riwayat al-Tirmidziعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ البخاري “Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari ganguan ucapan dan tangannya, dan orang yang Hijrah tergolong kelompok Muhajirin adalah yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah.” HR. Bukhariإِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ “Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya.” HR. Muslim.أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ “Aku adalah penjamin sebuah rumah di sekitar taman surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar, penjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun ia bercanda, juga menjadi penjamin sebuah rumah di surga paling atas bagi orang yang memiliki husnul khuluq.” HR. Abu Dawud.أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka atau neraka diharamkan terhadap setiap orang yang gampang dekat, lembut perangai, dan mudah.” HR. Tirmidziكاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ “Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.” HR. Muslimإِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah/hina.” [HR. Al-Hakim]. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ مسلم “Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapkan La ilaha illallah’, dan yang terendah adalah membuang gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan sebagian dari iman.” HR. Muslimإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ “Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan shalat dengan ahlak baiknya.” HR. Abu Daudحَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ البخاري “Tidaklah seorang diantara kalian dikatakan beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri.” Hadits riwayat Bukhariعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ مسلم “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” Hadist riwayat Muslimحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ مَحْمُودٌ وَالصَّحِيحُ حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ Dari Abu Dzar ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku "Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik." Sunan Tirmidzi حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ وَهَذَا أَصَحُّ وَالثَّرْثَارُ هُوَ الْكَثِيرُ الْكَلَامِ وَالْمُتَشَدِّقُ الَّذِي يَتَطَاوَلُ عَلَى النَّاسِ فِي الْكَلَامِ وَيَبْذُو عَلَيْهِمْ Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara kata-kata tidak bermanfaat dan memperolok manusia." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?" Nabi menjawab "Yaitu orang-orang yang sombong." HR. Tirmidziأَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ “Seseorang berkata kepada Rasulullah saw, Nasihati aku!’ Beliau bersabda, Jangan marah!’ beliau mengulang beberapa kali, Jangan marah!” Bukhari.حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بَشِيرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَعَمُّ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ هُوَ قُطْبَةُ بْنُ مَالِكٍ صَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Nabi SAW mengucapkan "ALAAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN MUNKARAATIL AKHLAAQ WAL A'MAALI WAL AHWAAAI" Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu." HR. Turmidziحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ هُوَ ابْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْدِيُّ Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab "Mulut dan kemaluan." HR. Tirmidziحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ مَمْلَكٍ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَأُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ Dari Abu Darda` bahwasanya Nabi SAW bersabda "Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat."Sunan Tirmidziكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقاً “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.”HR Bukhori wa MuslimSekian mengenai kumpulan hadits nabi tentang akhlak lengkap. Seluruh hadist di atas menunjukkan kemuliaan, keutamaan, manfaat bagi mereka yang berakhlak terpuji, juga menunjukkan kerugian bagi mereka yang memiliki sifat tercela. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita semakin baik, semakin taat dan semakin dekat dengan Allah SWT. Wallahu a'lam. Ayat-ayat Al Quran tentang akhlak terpuji dan akhlak tercela dalam bacaan Arab, arti serta penjelasan tafsir, diantaranya tentang akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia juga 10 ayat tentang akhlak tercela dari surat Al Baqarah. Akhlak adalah hal yang penting bagi seorang muslim, terutama aqidah akhlak kita kepada Allah, bahkan di katakan belajar adab akhlak dahulu dari pada ilmu. Ini bukan tanpa alasan, karena orang yang beradab dan berakhlak mulia jika mempunyai ilmu akan mudah untuk mengamalkan dan tidak sombong dengan ilmunya. Tetapi jika orang tersebut mempunyai ilmu tapi tidak memiliki akhlak terpuji, akan rentan terhadap sikap sombong dan takabur serta merendahkan orang lain dengan ilmunya. Kali ini kami akan tuliskan ayat alquran tentang akhlak yang merupakan lanjutan dari artikel tentang akhlak, yang sebelumnya, sudah kami tuliskan hadits tentang akhlak dan penjelasannya, pengertian akhlak kepada Allah, silahkan anda baca artikel tersebut. Daftar IsiAyat Ayat Al Quran Tentang AkhlakAyat Al Quran Tentang Akhlak Kepada AllahAyat AL Quran Tentang Aqidah AkhlakAyat AL Quran Tentang Akhlak TawakalAyat Al Quran Tentang Akhlak SabarAyat AL Quran Tentang Akhlak BersyukurAyat AL Quran Tentang Akhlak Ridho Kepada AllahAyat AlQuran Tentang Akhlak IkhlasAyat Al Quran Tentang Akhlak Kepada ManusiaAyat Al Quran Tentang Akhlak Dalam PerkataanAyat Tentang Akhlak Dalam Berdebat10 Ayat Tentang Akhlak Tercela1. Surat Al-Baqarah Ayat 102. Surat Al-Baqarah Ayat 113. Surat Al-Baqarah Ayat 144. Surat Al-Baqarah Ayat 155. Surat Al-Baqarah Ayat 266. Surat Al-Baqarah Ayat 347. Surat Al-Baqarah Ayat 558. Surat Al-Baqarah Ayat 599. Surat Al-Baqarah Ayat 6010. Surat Al-Baqarah Ayat 8811. Surat Al-Baqarah Ayat 89Kesimpulan Seperti biasa, kami akan tuliskan ayat ayat Al Quran yang berkenaan dengan akhlak berdasarkan sub judul atau tema bahasan, agar kita mudah mencari tentang tema yang kita inginkan. Dalam bahasan kali ini tentang akhlak dalam Ayat Al Quran, maka bisa kita bagi menjadi dua, yaitu akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia. Ayat Al Quran Tentang Akhlak Kepada Allah Secara garis besarnya akhlak kepada Allah adalah Aqidah akhlak berupa Tauhid, Tawakal, Syukur, Sabar, Ridho dan ikhlas. Ayat pertama yang akan kami tuliskan berikut tentang aqidah akhlak kepada Allah juga kepada manusia secara umum. Ayat AL Quran Tentang Aqidah Akhlak Al Quran Surat Al-Baqoroh ayat 83 لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّـهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا Artinya “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia” [al-Baqoroh 83] Penjelasan Ayat di atas berbicara tentang Aqidah akhlak kepada Allah dan juga akhlak kepada manusia secara umum di antaranya kepada Orang tua, kerabat, anak yatim dan orang miskin. Ayat ini secara urutan, pertama menjelaskan tentang tauhid, dan ini adalah salah satu pokok aqidah akhlak berupa tauhid, ini juga dalil akan pentingnya akhlak kepada Allah dibandingkan akhlak kepada manusia. Karena setelah mengatakan terlarangnya penyembahan kepada selain Allah, baru di ikuti dengan berbuat baik kepada manusia secara umum,di mulai dari orang tua, kerabat,anak yatim dan orang yang fakir. Untuk bahasan yang pertama aqidah akhlak silahkan baca pembahasan tentang akhlak kepada Allah, dan untuk akhlak terpuji kepada manusia bahasan lengkapnya baca pada artikel akhlak mahmudah. Ayat AL Quran Tentang Akhlak Tawakal Quran Surat Al-Mulk Ayat 29 قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Artinya Katakanlah “Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”. [QS Al Mulk ayat 29] Quran Surat Asy-Syu’ara Ayat 217 وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ Artinya Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang [ QS Asy-Syu’ara Ayat 217] Penjelasan Tawakal artinya menggantungkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata, karena semua yang terjadi si muka bumi dan seluruh alam terjadi karena adanya kuasa dari Allah. Kita hanya di perintahkan untuk taat dan melakukan ikhtiar, tapi untuk hasil hanya Allah saja yang menentukan, karena hakikatnya apapun yang kita dapatkan itulah yang terbaik menurut Allah. Ayat Al Quran Tentang Akhlak Sabar Quran Surat Al-Baqarah Ayat 45 وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ Terjemah Arti Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ [Al Baqarah ayat 45]. Penjelasan Sabar adalah salah satu akhlak terpuji, karena dengan sabar kita bisa tenang menjalani hidup dan bisa menerima apapun keadaan kita, baik ketika tertimpa musibah maupun mendapatkan nikmat. Itulah kenapa sabar di dahulukan daripada sholat, karena sejatinya sabar adalah ketika kita di awal mendapatkan musibah, setelah sabar baru kita berdoa dengan melaksanakan sholat, untuk bahasan sabar silahkan baca ayat Al Quran tentang sabar. Ayat AL Quran Tentang Akhlak Bersyukur Quran Surat Al-Baqarah Ayat 152 فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ Artinya Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. [Al Baqarah ayat 152]. Penjelasan Bersyukur adalah salah satu bentuk akhlak kita kepada Allah, karena dengan bersyukur artinya kita berterimakasaih kepada Allah, minimal dengan mengucapkan Hamdalah, yaitu “Alhamdulillah”. Dan syukur juga bisa di realisasikan dengan cara melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan setiap kewajiban yang di bebankan kepada kita. Ayat AL Quran Tentang Akhlak Ridho Kepada Allah Al Quran Surat Al Fajr ayat 28 ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً Artinya Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. [Al-Fajr ayat 28 Penjelasan Hati yang ridho atas apa yang telah di berikan Allah kepada kita adalah salah satu akhlak kepada Allah, karena semua yang telah Allah berikan kepada kita adalah baik, walaupun kita tidak puas dengan pemberian tersebut. Ayat AlQuran Tentang Akhlak Ikhlas قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ Artinya Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu kepada Allah pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula. [ Al-A’raf ayat 29] Penjelasan Ikhlas disini maksudnya adalah beribadah hanya kepada Allah tanpa niat selainnya, karena ikhlas adalah pondasi penting dalam beramal. Barang siapa yang beramal tapi tidak ikhlas karena Allah maka ibadah yang di lakukan tersebut akan berubah menjadi riya, lihat, dari ibadah yang awalnya untuk mencari ridho dan pahala malah berubah menjadi dosa riya. Inilah pentingnya kita ikhlas kepada Allah, dan ini juga termasuk akhlak kita kepada Allah. Ayat Al Quran Tentang Akhlak Kepada Manusia Secara garis besar, Akhlak kepada manusia berupa perbuatan baik diantaranya, pemaaf, pemberi, berkata yang baik, tidak mudah emosi atau pemarah. Seperti dalam Surat Ali Imran ayat 133 dan 134 berikut وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 133 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 134 Artinya Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Al Imran 133-134]. Ayat Al Quran Tentang Akhlak Dalam Perkataan Al Quran Surat Al-Baqoroh ayat 83 وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا Artinya “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” [al-Baqoroh 83] Al Quran Surat Al-Isro ayat 23 وَلا تَنْهَرْ هُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا Artinya “Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” [al-Isro 23] Al Quran Surat Al-Isro ayat 53 وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ Artinya “Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik benar” [al-Isro 53] Penjelasan Ayat ayat di atas adalah perintah agar kita berkata dengan baik, lembut dan benar atau tidak dusta, dan kesemuanya ini berbicara tentang akhlak dalam ucapan kita kepada manusia. Hal ini telah di contohkan oleh panutan kita Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam yang selalu berkata baik dan benar serta lembut tidak kasar dan tidak membentak. Ayat Tentang Akhlak Dalam Berdebat Al Quran Surat Al-Ankabut ayat 46 وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ Artinya “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka” [al-Ankabut 46] Penjelasan Ayat di atas berbicara tentang perdebatan dengan ahli kitab, yaitu yahudi dan nasrani, dan Allah Azza wa jalla memerintahkan kepada kita sebagai kaum Muslimin agar berdebat dengan akhlak dan cara yang baik. Karena tujuan debat dengan mereka adalah dalam rangka dakwah agar mereka masuk ke dalam agama yang hak yaitu Islam. Tapi jika ahli kitab tersebut adalah orang yang zalim dan akan memerangi kita, maka lawan dan perangi mereka, agar mereka tunduk, jika mereka masih dengan kekafirannya maka mereka di wajibkan bayar jiziah atau upeti. Tentu ini berbicara di masa kejayaan islam dahulu, dan sebenarnya untuk saat inipun masih berlaku, hanya saja tidak bisa kita memerangi diantara mereka yang zalim, karena kerusakan yang di timbulkan akan lebih besar. Berbeda jika debat tersebut sesama Islam, maka ada aturan aturan tertentu yang butuh penjelasan rinci tentang boleh tidaknya dan juga tentang maslahat dan mafsadatnya, mudah mudahan nanti bisa kami tuliskan artikel khusus tentang debat dalam islam. 10 Ayat Tentang Akhlak Tercela 10 Ayat tentang akhlak tercela ini kami tuliskan dari surat Al Baqarah, berikut ayat ayat yang menerangkan tentang akhlak tercela. 1. Surat Al-Baqarah Ayat 10 فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ Artinya Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta [AL Baqarah ayat 10] 2. Surat Al-Baqarah Ayat 11 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ Artinya Dan bila dikatakan kepada mereka “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. 3. Surat Al-Baqarah Ayat 14 وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ Artinya Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. 4. Surat Al-Baqarah Ayat 15 اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ Artinya Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. 5. Surat Al-Baqarah Ayat 26 إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ Artinya Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, 6. Surat Al-Baqarah Ayat 34 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ Artinya Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. 7. Surat Al-Baqarah Ayat 55 وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ Artinya Dan ingatlah, ketika kamu berkata “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”. 8. Surat Al-Baqarah Ayat 59 فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ Artinya Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan mengerjakan yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. 9. Surat Al-Baqarah Ayat 60 وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ Artinya Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. 10. Surat Al-Baqarah Ayat 88 وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ Artinya Dan mereka berkata “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. Kami tambahkan 1 ayat lagi agar lengkap 11, yaitu aurat Al Baqarah ayat 89 berikut 11. Surat Al-Baqarah Ayat 89 وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ Artinya Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Kesimpulan Ayat ayat tentang akhlak di atas adalah dalil tentang akhlak kepada Allah dan kepada manusia, akhlak kepada Allah adalah akidah akhlak, akhlak dalam ibadah dan akhlak dalam ketundukan kepada apa apa yang di perintahkan dan yang di larang. Akhlak kepada manusia adalah akhlak berupa perbuatan baik kepada sesama, seperti berkata lembut tidak kasar, pemaaf, tidak emosian atau pemarah, memberi dan kebaikan secara umum. Akhlak yang harus menjadi prioritas adalah akhlak kepada Allah, karena dengannya kita menjadi muslim dan dengannya keridhoan Allah akan kita dapatkan. Setelah akhlak kepada Allah kita lakukan selanjutnya perbaiki juga akhlak kita kepada manusia agar hubungan kita baik kepada Allah dan kepada manusia. Demikian semoga bermanfaat bahasan kali ini yang berkaitan dengan ayat al quran tentang akhlak, wallahu a’lam. Baca Juga Hadits Tentang AKhlak dan Penjelasannya Hadits Tentang Akhlak Tercela عن أبي بَكْرَةَ- رضي الله عنه – عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال أَلا أُنَبِّئُكم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِر؟»- ثَلاثا- قُلْنَا بَلى يا رسول الله، قَالَ الإِشْرَاكُ بِالله وَعُقُوقُ الوالدين، وكان مُتَّكِئاً فَجَلس، وَقَال ألا وَقَوْلُ الزور، وَشهَادَةُ الزُّور» فَما زال يُكَرِّرُها حتى قُلنَا لَيْتَه سَكَت[صحيح] – [متفق عليه] Abu Bakrah -raḍiyallāhu anhu- meriwayatkan dari Nabi – ṣallallāhu alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau pada waktu itu bersandar, lalu duduk kemudian meneruskan sabdanya, “Ingatlah juga perkataan palsu dan kesaksian palsu.” Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, “Andai saja beliau diam berhenti.” [Hadis sahih – Muttafaq alaih] Uraian Hadits Rasulullah -ṣallallāhu alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabatnya, “Maukah aku beritahukan kepada kalian, yakni, aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar. “ Lantas beliau menyebutkan tiga dosa tersebut. Pertama, menyekutukan Allah, yaitu pelanggaran terhadap kedudukan ulūhiyyah keilahian-Nya, merampas hak Allah -Subhānahu wa Ta’ālā-, dan menyerahkannya kepada yang tidak pantas mendapatkannya dari kalangan makhluk yang lemah. Kedua, durhaka kepada kedua orang tua yang merupakan dosa yang keji karena merupakan tindakan membalas kebaikan dengan keburukan kepada manusia yang paling dekat. Ketiga, kesaksian palsu yang bersifat umum bagi setiap ucapan palsu dan dusta yang bertujuan menzalimi orang lain dengan mengambil hartanya, menodai kehormatannya, atau selain itu. Faidah Hadits Faedah Di antara pelajaran dari hadis ini yaitu menyampaikan hukum-hukum syariat dengan metode tawaran, “Maukah kalian aku kabari?” Kesyirikan kepada Allah adalah dosa paling besar karena Nabi -ṣallallāhu alaihi wa sallam- meletakkannya di bagian paling pertama dan paling besar di antara deretan dosa-dosa besar. Hal ini dipertegas oleh firman Allah -Ta’ālā-, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan akan mengampuni yang lainnya bagi siapa yang Dia kehendaki.” Besarnya hak kedua orang tua karena Rasul -ṣallallāhu alaihi wa sallam- menggandengkannya dengan hak Allah -Ta’ālā-. Bahaya kesaksian palsu serta dampak buruknya terhadap kehidupan masyarakat muslim pada tataran akhlak ataupun sisi kehidupan bermasyarakat lainnya. Baca Kalam-kalam Nasihat dari Para Ulama —————————————————– Ideologi Nusantara Post navigation

hadits tentang akhlak tercela