hadits semua hanya titipan allah

Jadikesimpulan dalam hadist tersebut adalah kita sebagai umat manusia harus mencari rizeki dengan cara yang halal,karena itu hanya titipan Allah SWT kepada kita,dan kita yang di kasih amanah oleh Allah SWT harus melakukan nya dengan baik,karena kelak akan di pertanggung jawabkan kelak di akhirat. Barangsiapayang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu Firman Allah SWT : (jika kalian bersyukur , niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS. 14-Ibrahim; 7) Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah makaapabila diberi kecantikan wajah ,maka kita haruas mensyukurinya jangan tidak pandai bersyukur ,karena semua itu hanya lah titipan Allah maka tutplah auratmu itu ,karena apabila kamu memperlihatkan auratmu itu sesungguhnya itu ada pertanggung jawabannya disisi Allah swt. dan Allahswt sangat benci SidangJum'at rahimakumullah, Ada 5 cara mensyukuri nikmat yang perlu kita renungkan. Pertama, yakinlah bahwa semua nikmat itu hanya milik Allah. Tiada pembagi nikmat selain Dia. Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Sedangkankepemimpinan adalah amanah titipan Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta ataupun di kejar dan di perebutkan. adalah pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah tentang kepemimpianannya. Hadits diantaranya dalam kitab Al-Lu'lu' wal Marjan No.1199 sebagai berikut: عَبْدُ اللهِ Singles Aus Brandenburg An Der Havel. Ketika kita mengetahui bahwa harta manusia adalah milik Allah, maka kita tahu bahwa semua harta ini hanyalah titipan dari Allah. Seseorang hanya boleh memanfaatkan barang titipan sesuai dengan aturan pemiliknya yang sesungguhnya, tidak boleh memakainya secara sembarangan. Peraturannya, ketika ada seseorang yang menitipkan barang kepada orang lain, maka orang yang dititipi boleh menggunakan barang tersebut dengan syarat mendapat izin dari pemilik barang dan harus sesuai dengan aturan yang ditetapkannya. Sebagai contoh, Si A menitipkan motor kepada si B. Maka Si B boleh menggunakan motor tersebut sesuai peraturan yang ditetapkan oleh Si A karena yang memiliki motor sesungguhnya adalah Si A. Misalnya Si A mengatakan “Kamu boleh menggunakan motor ini asalkan tidak digunakan untuk keluar kota.” Artinya Si B boleh menggunakannya sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Si A yang telah menitipkan barang. Demikian pula harta titipan Allah yang ada pada diri kita, dia hanya boleh dimanfaatkan sesuai dengan aturan Allah, tidak boleh digunakan secara sembarangan. Karena itulah, di akhirat nanti Allah akan bertanya kepada setiap hamba, “Untuk apa harta tersebut engkau habiskan?” Dari Sahabat Abu Barzah, telah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang 4 perkara Pertama, tentang umurnya dihabiskan untuk apa. Kedua, tentang ilmunya diamalkan atau tidak. Ketiga, Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. Keempat, tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” HR Tirmidzi dan Tirmidzi berkara hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Oleh karena itu seseorang tidak boleh menggunakan seenaknya karena semua akan ditanya, apalagi dia habiskan untuk perkara-perkara yang haram atau perkara yang sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” QS. Al-Isra’ [17] 27 Allah juga berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ…… “….makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” QS. Al-A’raf [7] 31 Oleh karena itu, barang siapa yang mengelola hartanya dengan tanpa hak, misalnya dia gunakan untuk perkara yang haram, perkara yang sia-sia, menghambur-hamburkan uang saja, maka dia diancam Allah dengan ancaman neraka Jahanam. Inilah penafsiran jenis pertama dari hadits tersebut, yaitu mengelola harta yang ada di dirinya tanpa hak. Allahu A’lam. Sumber Referensi Utama dengan sedikti penambahan dari penulis Andirja, Lc., MA, Dr. Firanda. 2021. Kitabul Jami’ Penjelasan Hadits-Hadits Adab dan Akhlak Jilid 2. Jakarta Ustadz Firanda Andirja Office. Navigasi pos Nasehat Dhuha Rabu, 1 Desember 2022 25 Rabiul Akhir 1443 H Oleh Tim Humas BMI Klikbmi, Tangerang- Tema yang diangkat hari ini adalah hidup adalah titipan Allah semata. Kita sering merasa bersedih ketika kehilangan dan menganggap kesedihan itu adalah hal yang wajar. Memang hal ini sangat manusiawi. , namun jika memaknai lebih dalam, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak pernah benar-benar kehilangan apapun. Pasalnya, segala yang kita miliki merupakan titipan Allah, Jika kita merasa memiliki sesuatu, bisa harta kekayaan, pangkat jabatan, pasangan, anak-anak, rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dari urusan dunia ini, maka yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan. Kita tidak memiliki apa-apa jika Allah SWT tidak memberi kepada kita. Kita tidak punya apa-apa jika AllAh tidak menghendakinya. Selayaknya sebuah titipan, pasti ada saatnya titipan itu diambil kembali oleh sang pemilik. Itulah sebabnya orang-orang yang mendapat keberkahan sempurna serta petunjuk dari Allah sangat mengetahui hal ini, dan alih-alih merasa sedih telah kehilangan. Mereka akan menghibur diri dengan mengucapkan “Innalillaahi wa inna ilaihi rojiun” yang bermakna “Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padaNya”. Mereka tahu bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan ada titipan’ yang sudah harus dikembalikan. Kesehatan, kekayaan, dan orang-orang yang kita cintai adalah berkah yang dipinjamkan Allah SWT, namun tak jarang manusia lupa berkah tersebut hanyalah titipan yang dapat diambil kapan pun. Dan, juga akan ada saatnya sang pemiliki mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan titipannya. Maka, demikian pula dengan titipan Allah SWT kepada kita. Rasululloh SAW bersabda لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”HR. Tirmidzi Mata kita, digunakan untuk apa? Apakah untuk membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Alloh Swt. sehingga makin kuat iman kita kepada-Nya, ataukah justru digunakan untuk bermaksiat? Lisan kita, digunakan untuk apa? Apakah basah dengan dzikir dan ucapan-ucapan yang Alloh ridhoi, ataukan sibuk dengan ucapan dusta dan sia-sia? Demikian juga dengan berbagai hal yang menurut kita adalah milik kita, untuk apakah digunakan, apakah untuk mendekat kepada Alloh atau malah menjauhi-Nya? Maasyaa Allah, setiap segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allah SWT berfirman, وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” QS. Ali Imron [3] 109 Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita senantiasa menyadari bahwa segala kita yang miliki adalah titipan dari Allah SWT. yang pasti kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang amanah dalam mengemban amanah tersebut untuk hanya dipergunakan pada urusan-urusan yang Allah ridhoi. Aamiin yaa Robbal aalamiin. Mari terus ber-ZISWAF Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 BSI eks BNI Syariah a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI 0000000888.Togar Harahap/Klikbmi Hadits merupakan salah satu sumber utama ajaran agama Islam selain Al-Quran. Hadits sendiri berisi kumpulan perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai pedoman hidup oleh umat Islam. Dalam Islam, hadits memiliki peran penting sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari hadits, salah satunya adalah “hadits semua hanya titipan Allah”.Source Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai pentingnya hadits dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana kita bisa mengambil manfaat dari hadits tersebut. Apa itu Hadits? Hadits merupakan kumpulan perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada umat Islam. Hadits juga dijadikan sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran dalam Islam. Ada banyak sekali hadits yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam. Hadits memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Dengan memahami hadits, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hadits juga bisa menjadi pedoman bagi kita dalam menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan sesama manusia. Hadits Semua Hanya Titipan Allah Salah satu hadits yang sangat terkenal di kalangan umat Islam adalah “hadits semua hanya titipan Allah”. Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa semua yang ada di dunia ini hanya titipan dari Allah SWT, termasuk diri kita sendiri. Kita hanya sebagai pengelola atas titipan Allah tersebut. Kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Hadits ini juga mengajarkan kepada kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita harus selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki, baik itu harta, keluarga, atau kesehatan, semuanya berasal dari Allah. Mengambil Hikmah dari Hadits Semua Hanya Titipan Allah Hadits semua hanya titipan Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga harus selalu ingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Allah-lah yang memiliki segalanya dan kita hanya sebagai hamba-Nya. Kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Mengaplikasikan Hadits Semua Hanya Titipan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengaplikasikan hadits semua hanya titipan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga bisa membiasakan diri untuk selalu mengucapkan alhamdulillah setiap kali kita merasakan nikmat dari Allah. Selain itu, kita juga bisa mengaplikasikan hadits ini dengan selalu mengingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Kita harus selalu ingat bahwa kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Kesimpulan Hadits semua hanya titipan Allah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga harus selalu ingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mengaplikasikan hadits ini dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah dan selalu mengingat bahwa kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari video ofHadits Semua Hanya Titipan Allah Mengenali Pentingnya Hadits dalam Kehidupan Sehari-hari JAKARTA - KH Ali Yafie dalam bukunya, Menggagas Fiqih Sosial mengatakan, ajaran Islam menempatkan harta benda dalam jajaran lima kemaslahatan dasar. Sebab, harta merupakan salah satu kepentingan yang mendasar dalam kehidupan manusia. Namun, Islam juga menempatkan harta benda sebagai ujian bagi manusia. Ini seperti ditegaskan surah Al-Taghaabun ayat 15, yang artinya, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu ...." Di satu sisi, hak kepemilikan seseorang atas harta benda tetap dihormati dan dilindungi. Akan tetapi, di sisi lain harta benda itu pada hakikatnya merupakan titipan dari Allah SWT. Sebab, Dialah Yang Mahamemiliki. Maka dari itu, seorang insan harus memanfaatkan harta bendanya sebagaimana diperintahkan Allah SWT. Ketika Nabi Muhammad saw tengah menderita sakit dan menjelang ajalnya, beliau hanya memiliki uang tujuh dinar. Khawatir kalau sampai meninggal dunia uang tersebut masih berada di tangannya, Nabi SAW pun menyuruh menyedekahkan seluruh uang itu kepada fakir miskin. ''Bagaimana nantinya jawab Muhammad kepada Tuhannya, sekiranya ia menghadap Allah sedangkan uang itu masih ada di tangannya,'' kata beliau. Demikianlah, Rasulullah saw pergi meninggalkan dunia fana ini menghadap Allah SWT tanpa meninggalkan uang sepeser pun. Nabi SAW tidak meninggalkan sesuatu harta benda kepada siapa pun, termasuk kepada keluarganya. Sekalipun demikian, Nabi secara cemerlang telah meninggalkan suri teladan dan contoh kehidupan yang indah. "Sesungguhnya pada diri Rasululllah itu suri teladan yang baik bagimu" QS Al-Ahzab 121. Ya, beliau hidupnya sangat bersahaja dan tidak terlalu merisaukan harta benda. Aisyah pernah berkata, ''Kiranya tuan makan hanya sekadarnya kenyang saja.'' Menjawab istrinya ini Nabi berkata, ''Wahai Aisyah! Buat apa dunia ini bagiku. Para rekanku, rasul-rasul ulul azmi telah bertahan atas hal-hal yang lebih berat dari yang aku rasakan. Aku malu, kalau sampai aku menghadap Tuhanku akan tak mencapai martabat seperti mereka." Sebagai pemimpin, beliau ingin memberikan contoh kepada para pemimpin lainnya agar selalu mendahulukan kepentingan rakyat katimbang diri dan keluarganya. Karenanya, Nabi pernah menolak permohonan putri tercintanya, Fatimah, yang menginginkan seorang pembantu di kediamannya yang berasal dari tawanan perang. Nabi menganggap masih ada orang lain yang lebih membutuhkannya. sumber Hikmah Republika oleh Alwi Shahab “Biar kita kehilangan sesuatu karena Allah, asal kita tidak kehilangan Allah karena sesuatu”.Itulah kalimat bijak dan penuh hikmah. Penuh makna dan bisa menjadi renungan kita. Momentum buat kita introspeksi diri. Agar kita senantias berdoa untuk yang terbaik, berpikir lebih positif dari hari ini. Lalu, pasrah sambil tetap istiqomah di jalan Allah SWT. Karena apalagi yang bisa kita perbuat, selain ikhtiar dan berserah kepada-Nya. Anda, saya, kita dan yang ada di sekitar kita, HANYA titipan Allah …Cobaan dan ujian bisa datang kapan saja, tanpa kita minta tanpa bisa ditolak. Musibah bisa silih berganti datangnya, apalagi kalau bukan untuk menguatkan kita. Senang dan bahagia, bisa datang untuk menghibur kita kkarean tidak ada duka yang di dekat kita, akan dan bisa datang silih berganti. Siang akan berganti malam, duka berganti suka, sesal berganti bahagia, dan seterusnya. Semua ada dalam hidup kita dan sudah menjadi suratan Takdir-Nya …Apa artinya untuk kita?Artinya, di dunia ini memang tidak ada yang abadi. Hanya Allah SWT yang abadi. Semuanya titipan Allah. Segala yang kita miliki terlalu mudah untuk lepas dari genggaman. Cepat atau lambat, orang-orang yang kita cintai, harta kekayaan dan segala yang kita miliki tiba-tiba akan berkurang atau pernah kita sangka, tiba-tiba salah satu anggota keluarga yang kita cintai meninggal dunia. Apalagi pangkat dan jabatan yang kita sandang, terlalu mudah untuk hilang. Itulah misteri hidup dan dapat menimpa siapa hanya titipan Allah. Termasuk anak, istri, suami kita. Begitu pula harta, pangkat dan jabatan. Sekadar titipan sekaligus amanah untuk kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya titipan Allah. Tinggal kita mau merenunginya atau tidak?Ya, hanya titipan Allah. Seperti yang sehari-hari dialami tukang parkir. Di lahan parkir, berbagai merek mobil atau motor datang menghampirinya. Dari yang mahal hingga yang murah. Dari yang masih mulus sampai yang sudah penyok. Sesaat saja, tukang parkir bisa menguasai puluhan atau ratusan kendaraan. Ingat, untuk beberapa saat itu, ketika sore tiba, ketika malam datang. Semua kendaraan pergi dan diambil kembali oleh pemiliknya. Si tukang parker tak punya apa-apa, sendiri lagi. Sepi tiada yang dipunya. Karena semua hanya “titipan” hebatnya, si tukang parkir tak pernah mengeluh. Tugasnya menjaa saat dia punya, dan membiarkkan yang dijaganya pergi. Karena semua hanya titipan. Si tukang parkir tak pernah berat hati saat kendaraan-kendaraan itu diambil kembali oleh pemiliknya. Dia tidak pernah menolak. Atau protes sekalipun kepada sang pemilik. Karena si tukang parkir sadar. Ia mengerti, semua kendaraan itu hanya titipan. Sekali lagi, hanyalah titipan !Dulu, saat kita lahir, tidak sehelai benangpun kita bawa. Kita memang bukan siapa-siapa. Tak mampu melakukan apapun selain menangis. Mengucurkan air Allah menitipkan rezeki-Nya kepada kita. Melalui air susu Ibu, energi kita tercukupi dan bisa bertahan hidup. Allah berikan pakaian, selimut, minyak kayu putih, air, dan sebagainya. Kebutuhan kita menjadi terpenuhi. Hingga akhirnya, kita bisa sebesar ini, semampu sekarang. Tidak lain, itu semua karena kemurahan cukupkah? Belum. Allah masih karuniakan kita lagi berbagai perhiasan dunia. Kita diberi pasangan dan anak-anak. Harta yang cukup atau melimpah. Kita dititipkan pangkat, jabatan, juga nama baik di mata manusia lainnya. Sekali lagi, itu semua berkat kemurahan lagi, kita makin sadar setiap apa yang kita miliki adalah titipan Allah. Sepatutnya, sebagai pihak yang dititipi kita harus menjaga titipan dengan amanah. Walau kita tahu, tidak sedikit manusia yang menyia-nyiakan titipan Allah. Karena masih ada orang tua yang menelantarkan anaknya. Masih ada orang kaya yang bersuka ria dalam kemaksiatan. Masih banyak dari kita yang berfoya-foya dalam kecukupannya …Asal kita eling saja. Sungguh, semua yang kita miliki adalah titipan Allah. Pasangan hidup adalah titipan, bimbinglah di jalan Allah. Anak-anak adalah titipan, didiklah di jalan Allah. Harta juga titipan, gunakanlah untuk kebaikan di jalan Allah. Pangkat atau jabatan adalah titipan, embanlah dengan amanah, jujur dan bertanggung jawab. Agar semuanya menjadi ibadah yang kita miliki adalah titipan Allah. Tak perlu tinggi hati. Tak perlu sombong. Anak-anak yang lucu dan pintar. Pasangan yang berparas indah. Rumah yang megah. Pangkat atau jabatan tinggi. Harta kekayaan yang berlimpah. Semua itu adalah titipan. Semua itu amanah agar kita mampu mengelolanya untuk menggapai ridho Allah. Amanah untuk merengkuh jalan keselamatan, bukan jalan ini bisa jadi pelajaran berharga. Tentang, semua yang kita miliki adalah titipan Allah. Sehingga, jangan ada lagi ucapan dari mulut kita, Ya Allah, kenapa harus aku yang diuji? Mengapa Engkau tidak kabulkan doaku?. Semoga kita tidak termasuk golongan yang berprasangka buruk pada ketetapan Allah. Tidak menyalahkan siapapun. Tapi tetap sabar dan istiqomah menjalani adalah keniscayaan terhadap sunnah Allah. Bergantinya tahun, berpindahnya satu waktu ke waktu yang lain merupakan evolusi masalah demi masalah, ujian demi ujian. Maka kita, dalam keadaan apapun, berkenan atau tidak berkenan, senang atau tidak senang, kita harus tetap cinta kepada Allah. Allah adalah pemilik semesta alam, termasuk pemilik memang penuh warna-warni, Ada suka, ada duka. Ada tawa, ada tangis. Tidak satu pun manusia di dunia ini yang merasa bahagia melulu tanpa sedih. Tak ada juga orang yang sedih melulu tanpa ada bahagia. Itu sudah menjadi hukum Allah. Dan setiap kita sudah punya episode kehidupan masing-masing. Jadi, persoalan bukan terletak pada masalahnya, tapi pada sikap kita terhadap suatu pepatah, bila air di gelas tumpah, biarkan pikiran dan hati tak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut. Karena semua terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kita perlu kuatkan pikiran dan hati. Agar kita lebih sabar dan selalu ikhtiar di jalan Allah. Sebagai hamba-Nya, apa yang menjadi jatah kita pasti Allah berikan. Tapi apa yang memang bukan jatah kita, Allah pasti tidak akan berikan. Meski ia nyaris menghampiri kita, mati-matian kita mengusahakannya, percayalah ia tidak akan bisa kita miliki jika memang bukan jatah setiap persoalan hidup patut kita sikapi dengan baik. Kita semua butuh pikiran, mental, dan hati yang luas. Hati yang jembar untuk mengalahkan samudera persoalan hidup di dunia. Memang, seolah kamuflase. Tapi, kita patut merenungkannya. Sambil mempelajari sikap yang mungkin terlalu sering kita lupakan selama hidup. Apa itu?1. Hati yang selalu siap dalam menerima apapaun yang terjadi. 2. Tetap ikhlas jika apapaun sudah terjadi. 3. Tak perlu berptus asa, apalagi mengeluh. 4. Tetap introspeksi diri. 5. Bersandar hanya kepada tak perlu bersandar ke selain Allah. Agar tak takut sandarannya hilang. Istri yang bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya. Karyawan yang bersandar kepada kantor, takut kehilangan saya, buat sahabat, mari tanamkan dalam hati dan pikiran kita, lalu katakan, “Semua hanya titipan Allah.” Biar kita kehilangan sesuatu karena Allah, asal kita tidak kehilangan Allah karena sesuatu. YukEling

hadits semua hanya titipan allah